Siang itu kami berjalan pulang. Langkah kami ringan, tawa kami lepas—meski yang kami miliki hanya udara dan debu jalanan.
Lukas, Umar, dan Wisnu. Tiga anak yang mencoba hidup, meski tak pernah sungguh-sungguh dihidupkan oleh dunia.
Kami bercanda soal hal-hal kecil. Tentang sepatu robek, tentang mie instan curian semalam yang gagal matang,
Tentang cita-cita yang entah kenapa masih berani kami sebutkan.
Namun, langkah kami tiba-tiba berhenti. Tertahan oleh suara yang menghentikan detak.
“Pergi saja sana, gembel!”
Itu suara seorang lelaki. Pemilik restoran. Bajunya mahal, dadanya bidang, tapi mulutnya penuh kebencian.
Di hadapannya, berdiri seorang ibu. Renta. Kering. Gemetar.
Mengulurkan uang receh yang bahkan tak cukup untuk beli gorengan.
“Tolong, Pak…
Ini ada uang lima belas ribu…
Saya cuma ingin beli sedikit bakmi…
Anak saya sangat ingin makan bakmi…