Malam itu, kami duduk di bawah langit, diam dalam hening yang lebih nyaring dari suara.
Kami tak bisa lupa wajah ibu itu. Wajah yang terlalu renta untuk berharap…
tapi masih keras kepala ingin membuat anaknya bahagia.
“Kenapa ibu sebaik itu harus lapar?”
tanya Wisnu pelan. Tidak kepada kami. Tapi kepada Tuhan, mungkin.
Atau kepada takdir yang sedang menonton dari jauh sambil tertawa.
Kami hanya ingin dunia diam sebentar. Kami hanya ingin satu hari tanpa hinaan.
Kami hanya ingin satu momen kecil…