Sajak Kelam Para Terbuang

Temu Sunyi
Chapter #15

Jika Dunia Terlalu Tuli untuk Mendengar


“Andai… a… a… a… a... a...

aku jadi orang kaya… ser… hahaha!”

Suara serak Umar kembali berkumandang, membelah jalanan yang sibuk dengan tawa dan deru kendaraan.

Wisnu dan Lukas hanya menggeleng pelan, namun tetap setia mengiringi nyanyian itu—meski dengan wajah terpaksa.

Tawa mereka terdengar seperti pelampiasan, bukan bahagia.

Seperti memaksa bibir tertawa agar hati tidak runtuh sepenuhnya.

“Aku ngadem dulu, ah. Kalian lanjutin aja.”

Wisnu menepi, menuju sebuah pohon rindang di ujung trotoar.

Bayangannya teduh, namun tidak cukup menyejukkan dada.

Matanya tertumbuk pada seorang anak perempuan— berseragam sekolah menengah,

duduk sendiri dengan tatapan kosong ke arah jalanan. Diam. Sunyi.

Namun matanya penuh teriak yang tertahan.

Lihat selengkapnya