“Lari, Luk… lari lebih cepat lagi!”
teriak Umar, napasnya patah-patah oleh panik yang tak bisa disimpan.
Lukas tak jawab.
Ia hanya menggenggam tubuh kecil itu lebih erat.
Seorang bayi laki-laki, mungkin belum genap setahun.
Dada mungilnya naik turun…
lalu mendadak berhenti…
lalu naik turun lagi. Seperti hidup yang sedang tarik-ulur dengan kematian.
Di belakang mereka,
seorang bapak tua tersengal, menyeret langkah lelah, matanya basah oleh takut.
Ia baru saja muncul di gang tempat mereka biasa ngamen.
Menggendong anaknya yang sedang kritis, dengan tubuh yang sudah tidak sanggup berteriak minta tolong.
Tak sempat tanya siapa namanya. Tak sempat tanya asalnya. Karena saat nyawa dipertaruhkan, identitas bukan hal penting. Yang penting:
hidup.
Yang penting:
napas.