Tangan bayi itu dingin.
Wajahnya…
sudah tak ada warna.
Seperti bunga yang jatuh ke aspal dan tak akan pernah bisa tumbuh lagi.
Umar menoleh ke Wisnu.
“Ayo, kita cari klinik lain.”
Wisnu hanya menatapnya lama. Air mata sudah menggantung di kelopaknya.
“Mar…
dia udah gak ada…”
“Jangan gila kau, ayo… ayo cepat!”
bentak Umar,
suaranya gemetar bukan karena marah, tapi karena takut kehilangan harapan.
“Mar… dia…”
“AKU TAHU!!”
teriak Umar.
Lalu tubuhnya ambruk.
Pelukannya semakin erat.
Seakan ingin menarik roh kecil itu kembali ke dunia. Tapi semua sudah terlambat.
Bapak tua itu akhirnya menyusul.
Napasnya seperti diperas dari paru-paru yang sudah lama rusak.
Ia melihat anaknya…