Sajak Kelam Para Terbuang

Temu Sunyi
Chapter #19

Dunia yang Terlambat Mendengar


Koran-koran pagi berteriak lebih keras dari jeritan malam.

TV menampilkan wajah-wajah memelas, narator menyisipkan bumbu haru palsu.

"Restoran mewah dijarah oleh sekelompok pemuda liar."

Kamera menyorot meja yang terbalik, piring pecah, dan pelayan menangis—

tapi tak satu pun dari mereka menyebut, bahwa seorang ibuk tua hanya ingin membelikan bakmi untuk anaknya.

Bukan merampok, bukan mengemis. Hanya ingin menepati janji kecil yang ia ucapkan pada anaknya dengan suara parau dan harapan nyaris mati.

Tapi ia diusir.

Dimaki.

Karena bajunya lusuh, karena wajahnya tidak cocok dengan interior mahal dan tamu-tamu yang sedang selfie sambil menertawakan kemiskinan.

Ia dianggap kotor, dianggap menjijikkan,

dan harapannya dicabut tanpa permisi. Maka kami datang.

Bukan sebagai pahlawan. Tapi sebagai pengingat, bahwa harga diri seorang ibuk seharusnya tak diukur dari bajunya.


Tangan yang Merusak, Bukan Membimbing

Lihat selengkapnya