Kami duduk di bawah bayang jembatan yang bau kencing dan harapan busuk.
Siang masih muda, tapi kelelahan sudah tua di wajah kami.
Perut kosong tak lagi mengeluh—ia sudah pasrah, seperti kami yang belajar menelan lapar seperti menelan ludah sendiri.
Umar belum datang. Katanya, ada rute baru. Katanya, hari ini bakal lebih aman.
Katanya, kita bisa dapat lebih banyak sebelum senja menjemput kita pulang ke emperan yang kami sebut “rumah”.
Tapi yang datang bukan Umar. Yang datang adalah suara:
“LARI!!!
ADA PETUGAS!!!”
Itu suara Umar.
Tapi bukan suara seperti biasanya. Suara itu sekarang seperti peluit darurat dari kapal yang akan tenggelam.
Panik. Liar. Penuh ketakutan yang tak sempat dikemas.
Kami tak sempat tanya. Tak sempat berpikir. Kami ikut lari.
Karena di hidup seperti ini, berpikir terlalu lama bisa bikin kau mati.
Asap, debu, dan suara sepatu kami beradu dengan aspal.