Sajak Kelam Para Terbuang

Temu Sunyi
Chapter #22

Yang Mati Tak Pernah Sempat Berpamitan

Kami ingin mendekat, ingin pegang tangannya, ingin pastikan bahwa Umar hanya pingsan.

Tapi popor senapan menyambut wajahku.

DUK!

DUK!

DUK!

Sakit. Tapi bukan yang bikin menangis. Ini bukan air mata, ini amarah.

Tubuh kami dicabik. Kami diseret seperti karung goni.

Tak ada yang bantu.

Tak ada yang tanya. Semua mata hanya memandangi kami seperti kucing mati di pinggir jalan.

Tubuh Umar ditinggal.

Dingin.

Tergeletak seperti kardus bekas yang tak layak dibawa pulang.

Ia tidak dijemput ambulans. Tidak diselimuti. Tidak dipedulikan.

Lihat selengkapnya