Sajak Kelam Para Terbuang

Temu Sunyi
Chapter #23

Dunia Akan Lupa, Tapi Luka Kami Tidak

Umar kini jadi nama di batu yang tak pernah diberi bunga.

Ia mati dengan dada terbuka—bukan karena bangga,

tapi karena dunia menolak mendengar suara orang yang berbicara sambil gemetar.

Lukas dan Wisnu ditangkap.

Dihadapkan ke meja hijau yang warnanya lebih mirip lumut daripada keadilan.

Mereka dijuduli pelaku. Dijuluki liar.

Padahal mereka cuma belajar dari dunia—bahwa kadang, satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh kekuasaan adalah perlawanan.

Jaksa membacakan pasal.

Hakim mengetuk palu.

Media sibuk memotret wajah lelah dua anak yang tak pernah diberi panggung, kecuali saat sudah terpojok.

Dunia lega.

Karena bisa menutup luka dengan hukuman.

Bukan penyembuhan. Bukan pengakuan.

Restoran kembali ramai. Klinik dibangun ulang. Guru digantikan.

Dan kami?

Kami hanya cerita yang pelan-pelan dihapus,

karena terlalu jujur, terlalu kotor, terlalu mengganggu mimpi indah orang-orang yang kenyang.

Tapi dengar ini:

Kami tidak mati.

Kami menjelma.

Lihat selengkapnya