Sakanpari: Tempat Kita Pernah Ada

Indra Afriza Arsad
Chapter #2

Sakanpari dan Perdebatan Dengan Langit

 Ada jalan kecil yang namanya lebih besar dari ukurannya: Sakanpari. Aspalnya retak-retak, tiang listrik berdiri miring, dan warung kopi pinggir trotoar menjual mimpi seharga lima ribu per gelas. Sore itu, Ardan duduk di bangku panjang dari kayu usang, dengan kopi hitam dingin di tangan kiri dan buku puisi yang tak kunjung dibuka di tangan kanan. Langit di atasnya berwarna jingga lusuh, seperti kertas yang lupa dicetak penuh.

Ia sedang berdebat diam-diam dengan dirinya sendiri. Tentang kenapa hidup rasanya kayak barisan angka di berkas laporannya untuk Titi: kosong, dingin... dan diam-diam bikin orang pengen rebahan.

"Kenapa tadi aku malah bengong kayak kambing ketabrak motor?" pikir Ardan, mengingat wajah Titi yang bercanda santai namun efeknya seperti lemparan granat.

Ia menyeruput kopinya, hanya untuk menemukan bahwa rasanya seperti ampas bercampur putus asa.

Saat itulah, suara langkah cepat membelah sore. Ardan mengangkat kepala... dan dunia seperti berubah tekstur.

Titi. Dengan kemeja putih santai dan celana jeans, tanpa blazer resmi yang biasanya membalut sikap tegasnya. Di bawah cahaya senja, dia terlihat seperti tokoh fiksi yang secara ajaib melompat keluar dari halaman buku.

"Oh, Ardan?" sapa Titi, matanya berbinar kecil. Seperti bukan sengaja ketemu, tapi juga seperti tidak sepenuhnya kebetulan.

Lihat selengkapnya