Ada jam-jam tertentu di Jalan Sakanpari ketika dunia terasa setengah nyata, setengah mimpi. Sore berganti malam dengan malas, lampu jalan menyala satu-satu seperti bintang yang kehabisan baterai. Di salah satu sudut, Ardan berdiri di atas petak paving blok yang retak, seolah itu panggung kecil ciptaan alam. Di depannya, beberapa orang duduk lesehan — pekerja lelah, mahasiswa iseng, dan anak-anak muda yang belum mau pulang.
Ardan membuka buku lusuh dari saku jaketnya. Buku puisi, halaman-halaman berisi kata-kata aneh yang tak pernah berani ia bacakan di kantor.
Ia menarik napas panjang.
Tanpa mikrofon, tanpa tepuk tangan, hanya suara langkah sepatu dan desah angin menemani.
"Untuk kau yang tak pernah kupahami...
kau seperti payung terbuka di tengah hujan sunyi,
menunggu dijemput, tapi malah belajar menari sendiri.
Seperti bangku kosong yang membiarkan tubuhku jatuh pelan..."