Kantor itu masih berdiri seperti biasa — dua lantai, dinding putih, bau AC yang terlalu dingin, dan suara printer yang nyaris menyerupai ratapan mesin tua. Tapi buat Ardan, hari ini, semuanya terasa miring lima derajat. Dia melangkah masuk ke ruang operasional dengan buku laporan di tangan, mencoba mengatur napas, mencoba menganggap dunia ini biasa saja. Padahal di balik pikirannya, kejadian malam itu berputar-putar — puisi, jalanan, suara tepuk tangan seadanya... dan Titi.
Ia yakin melihat sekilas sosok perempuan di balik tiang lampu. Atau mungkin cuma halusinasi? Atau lebih parah lagi: Kalau memang Titi, terus dia nonton semua puisiku? Ardan hampir pingin amnesia sukarela.
"Ardan."
Suara itu menghentikannya.
Titi berdiri di ambang ruangannya, sambil menenteng gelas kopi dan berkas laporan.
Rambutnya dikuncir asal, matanya sedikit sembab seperti baru begadang. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang effortless tentang cara dia berdiri di situ, seperti tokoh utama film indie yang belum sadar dia tokoh utama.
"Halo, Bu Titi," sapa Ardan, nyaris menjatuhkan laporannya.
Titi mengangkat alis sedikit, senyumnya tipis.
"Masih mikirin laporan kosongmu?" tanyanya, nada suaranya biasa. Tapi ada kilatan aneh di matanya — seperti seseorang yang tahu sesuatu yang seharusnya tidak diketahui, tapi pura-pura nggak tahu.