Sakanpari: Tempat Kita Pernah Ada

Indra Afriza Arsad
Chapter #6

Malam yang Tidak Biasa di Sakanpari

 Sakanpari malam itu terasa lain. Lampu jalanan berwarna kekuningan, tenda-tenda kecil berjajar sembarangan, aroma kopi hangat, dan alunan gitar yang sesekali fals tapi juga terasa lebih natural. Ardan datang lebih awal, membawa buku catatan yang sudah bulukan. Dia berdiri di antara kerumunan, menatap panggung kecil seadanya di sudut jalan, menunggu.

Menunggu dia.

Dan di antara riuh rendah suara orang-orang, langkah Titi terdengar.

Bukan karena suara sepatunya, tapi karena dunia, untuk sesaat, seperti menggeser frekuensinya hanya untuk mengabarkan: Dia datang.

Titi mengenakan jaket denim dan kaus polos. Santai. Tidak ada formalitas manajer di balik senyum kecilnya.

"Udah lama nunggu?" tanyanya sambil menyodorkan secangkir kopi.

"Baru sebentar," jawab Ardan. Bohong. Dia sudah berdiri di sana sejak matahari belum benar-benar tenggelam.

Mereka berdiri berdampingan, canggung dalam cara yang manis.

Seorang performer mulai membaca puisi tentang patah hati dan ayam geprek. Penonton tertawa, bersorak, sesekali melempar recehan ke dalam toples plastik di depan panggung.

Titi ikut tertawa. Ardan melirik sekilas — ada sesuatu dalam tawanya malam ini. Sesuatu yang lebih lepas, lebih nyata.

"Wah, ternyata puisimu kemarin masih lebih waras dibanding ini," ujar Titi sambil menyikut pelan lengan Ardan.

Ardan tertawa kecil.

"Mungkin lain kali aku bakal bikin puisi tentang laporan keuangan," balasnya.

Titi mengangkat alis. "Aku tunggu."

Ada jeda, lalu Titi memiringkan kepala, serius.

"Kamu emang sering tampil kayak gitu?" tanyanya.

Ardan mengangguk pelan.

"Dulu. Sekarang... cuma sesekali, kalau lagi kebanyakan pikiran."

Lihat selengkapnya