Sakanpari: Tempat Kita Pernah Ada

Indra Afriza Arsad
Chapter #7

Sisa Malam dan Pikiran yang Tidak Bisa Diam

 Malam itu, setelah semua lagu habis dan semua tenda mulai dibongkar satu per satu, Ardan dan Titi berjalan pelan di sepanjang Sakanpari. Mereka tidak bicara banyak. Tapi justru dalam diam itu, ada sesuatu yang lebih ribut daripada seribu kata. Ardan menggenggam buku catatannya erat-erat. Setiap langkah seolah menulis puisi baru di aspal jalanan — puisi tanpa kata-kata, hanya tarikan napas dan detak jantung yang anehnya selalu sedikit lebih cepat saat berada di samping Titi.

Titi juga merasakannya.

Ada detik-detik di mana dia melirik ke arah Ardan, hanya untuk cepat-cepat mengalihkan pandangannya lagi. Ada jeda-jeda canggung di mana dia ingin berkata sesuatu — apapun — tapi lidahnya memilih memberontak.

Mereka berhenti di persimpangan kecil, di mana jalan bercabang dua. Satu menuju arah kontrakan Ardan, satu lagi ke jalan besar tempat taksi-taksi biasa mangkal.

Titi mengangkat wajahnya, tersenyum samar.

"Udah malam," katanya, nada suaranya pelan, hampir berbisik.

Ardan mengangguk. "Aku anterin, kalau mau."

Lihat selengkapnya