Hari itu, kantor terasa lebih kosong dari biasanya. Sebagian besar tim operasional turun ke lapangan untuk inspeksi, menyisakan hanya beberapa orang yang sibuk sendiri di balik meja-meja berderet. Titi berdiri di ruang pantry, memutar sendok di dalam gelas kopinya. Ardan masuk, membawa setumpuk berkas, tampang kusut seperti baru kalah perang melawan printer kantor. Mereka saling melirik, lalu tersenyum kecil —Kode rahasia tak tertulis yang perlahan menjadi kebiasaan.
"Break sebentar?" tawar Titi, menunjuk meja kosong di sudut.
Ardan mengangguk, meletakkan berkasnya, lalu mengambil tempat di hadapan Titi. Tak ada formalitas. Tak ada 'Bu' atau 'Pak'. Hanya Titi dan Ardan, dua orang yang terlalu nyaman untuk pura-pura lagi.
Obrolan mereka mengalir santai — soal event musik jalanan, soal buku-buku yang lagi mereka baca, soal cuaca yang katanya akan hujan tapi ternyata cuma mendung.
Hingga, tanpa sengaja, Titi menjatuhkan satu kalimat.
"Sabtu besok aku harus ke acara keluarga... tunanganku baru balik dari luar negeri."
Sederhana. Tanpa tekanan. Seolah hanya sekadar menyebutkan agenda rutin seperti meeting mingguan. Tapi kata itu — tunanganku — jatuh di meja mereka seperti batu besar ke dalam danau tenang. Membuat gelombang kecil, tapi cukup untuk mengubah segalanya.