Sakanpari: Tempat Kita Pernah Ada

Indra Afriza Arsad
Chapter #10

Jarak yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

 Sejak hari itu, Ardan berubah. Bukan berubah drastis, bukan pula menghilang. Dia tetap ada di kantor, tetap menyelesaikan tugas, tetap sesekali bercanda ringan saat diperlukan. Tapi ada sesuatu yang tak lagi sama. Seperti seorang pemain biola yang sengaja sedikit mengendurkan senarnya — suara yang keluar tetap melodi, tapi tidak seindah sebelumnya.

Titi menyadarinya.

Setiap kali dia melewati meja Ardan, ada hening kecil yang menggantung di udara. Setiap kali mata mereka bertemu, ada kedipan sepersekian detik — cepat sekali — sebelum Ardan berpaling. Dan anehnya, itu menyakitkan. Lebih sakit daripada kata-kata marah. Lebih menusuk daripada pertengkaran.

Sakit yang pelan-pelan merayap, seperti kabut yang tidak kau sadari menelan seluruh pemandangan sampai kau berdiri sendirian dalam abu-abu.

Suatu sore, Titi berdiri di balkon lantai dua kantor, memandang hujan yang turun deras.

Dia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menahan dingin yang sebetulnya bukan berasal dari angin. Dari balik pintu kaca, Ardan lewat sambil membawa map. Dia sempat berhenti, seolah ingin mendekat, ingin bicara.

Lihat selengkapnya