Tahun-tahun berlalu. Musim berganti ribuan kali. Jalanan Sakanpari tetap ada, tetap dipenuhi tawa, lagu, dan lampu jalan yang berkelip redup di malam hari.
Di suatu sore mendung, seorang perempuan bernama Titi Sugiarti pulang kerja sedikit lebih awal.
Kini ia sudah menjadi salah satu Direktur di perusahaan itu. Lebih sibuk, lebih banyak keputusan besar, lebih banyak rapat penting — tapi tetap, dalam dirinya, ada sisa kecil dari Titi yang dulu: yang suka bercanda absurd, yang tersenyum saat melihat hujan menitik pelan di kaca mobilnya.
Di sudut lain kota, seorang pria bernama Ardani —atau Ardan, bagi sedikit orang yang pernah memanggilnya begitu — duduk di sebuah kedai kopi kecil yang ia kelola. Kedai itu sederhana, dindingnya penuh rak kayu usang, aroma kopi hitam mengambang lembut di udara.
Ardan membalik halaman sebuah buku tua. Di antara lembaran itu, ia menemukan selembar kertas yang sudah mulai menguning — puisinya dulu, puisi yang pernah ia baca di Sakanpari pada suatu malam yang penuh kenangan.
Ia tersenyum kecil.