Saksi Bisu Di Balik Senyuman Yang Menyembunyikan Luka

Febiola Aurelia Friska Nahak
Chapter #1

Chapter tanpa judul #1 LAHIR DI RUMAH SAKIT INDAH RAHAYU

Pagi di Kota Blitar disambut dengan semburat cahaya hangat yang menyelinap masuk melalui celah jendela Rumah Sakit Indah Rahayu. Di koridornya, aroma antiseptik yang tajam menusuk indra, berbaur samar dengan wangi manis bubur kacang hijau yang mengepul dari kantin lantai bawah. Suasana tenang itu kontras dengan ketegangan yang terjadi di dalam salah satu ruang persalinan.Cika mengerang pelan, peluh membasahi keningnya. Jemarinya meremas kuat tangan Robi hingga buku-buku jarinya memutih, mencari pegangan di tengah rasa sakit yang mendera. Di luar ruangan, Tante Lina berjalan mondar-mandir dengan gelisah sembari menggenggam gelas air hangat, mulutnya tak berhenti merapal doa untuk keselamatan ibu dan anak.Tepat saat jarum jam menyentuh pukul tujuh lewat sedikit, sebuah tangisan nyaring memecah keheningan rumah sakit. Tangis itu bukan sekadar suara; ia adalah melodi harapan baru yang mekar di tengah segala keterbatasan hidup sebagai perantau. Suster yang membantu persalinan tersenyum lebar sembari membersihkan bayi mungil itu, "Wah, suaranya nyaring sekali, Bu. Anaknya sangat sehat."Mendengar tangis itu, Robi seolah kehilangan seluruh kekuatan di lututnya. Bukan karena lemah, melainkan karena rasa syukur yang meluap. Ia langsung bersujud di atas ubin rumah sakit yang dingin, membisikkan doa terima kasih kepada Sang Pencipta. Bayi perempuan cantik itu kemudian diberi nama Fensia."Fensia artinya pembawa kedamaian, Bi," bisik Cika lembut dengan suara yang masih lemah, saat memeluk gumpalan kecil dalam dekapan kain bedongnya. Matanya berkaca-kaca menatap wajah mungil sang putri. "Aku ingin hidupnya damai, tidak perlu berpindah-pindah lagi seperti kita. Aku ingin dia memiliki akar yang kuat di sini."Mereka tidak pernah menyangka bahwa nama itu kelak akan menjadi kekuatannya untuk bertahan hidup di tengah badai yang akan datang.

Lihat selengkapnya