Saksi Bisu Di Balik Senyuman Yang Menyembunyikan Luka

Febiola Aurelia Friska Nahak
Chapter #2

Chapter tanpa judul #2MASA KECIL BERSAMA KINANTI

Fensia tumbuh menjadi anak yang ceria dengan rambut ikal yang selalu memantul setiap kali ia berlari. Baginya, dunia bukan tentang gedung tinggi atau mainan mahal, melainkan halaman rumah dengan tanah merah yang luas di Kota Blitar. Di tanah itulah, langkah-langkah kecilnya meninggalkan jejak kebahagiaan.Di sana, ia memiliki seorang sahabat karib bernama Kinanti. Rumah mereka hanya dipisahkan oleh pagar bambu setinggi dada orang dewasa yang sering mereka jadikan tempat bertukar cerita atau sekadar mengintip keberadaan satu sama lain. Bagi mereka, pagar itu bukanlah penghalang, melainkan saksi bisu persahabatan yang murni.Hampir setiap hari mereka bermain bersama di bawah naungan pohon-pohon rindang. Daun nangka kering mereka susun menjadi piring, batu-batu kali yang kecil dianggap sebagai nasi, dan air comberan yang keruh seringkali mereka bayangkan sebagai kuah kaldu yang lezat. Mereka tertawa lepas, bersembunyi di balik jemuran yang berkibar ditiup angin atau menyelinap ke kolong meja kayu yang gelap, menikmati setiap detik masa kecil yang sederhana namun penuh warna.Tante Lina sering berteriak dari pintu dapur dengan suara melengkingnya, "Woy, anak gadis! Sudah sore! Masuk mandi! Jangan sampai disembunyikan kelongwewe!"Fensia dan Kinanti biasanya baru akan bubar ketika semburat jingga di langit mulai berubah menjadi gelap. Namun, perpisahan itu hanya sementara. Saat malam tiba, mereka masih sempat saling berteriak lewat jendela kamar masing-masing, "Fens! Besok main masak-masakan lagi, ya! Jangan lupa bawa batu yang banyak!"Dunia Fensia terasa begitu lengkap dan aman dalam dekapan hangat Kota Blitar. Namun, kebahagiaan itu ternyata memiliki batas waktu. Suatu sore, Robi pulang dengan raut wajah yang tidak biasa—pucat dan penuh kecemasan."Ma, Bapak di Atambua sakit keras. Kita harus pulang nengokin sekarang juga," ucap Robi dengan nada berat.Cika terdiam, sementara Fensia yang sedang memegang mainan batunya hanya bisa menatap bingung. Itulah sore terakhir di mana tawa Fensia tertinggal dan terkubur di dalam tanah merah Blitar. Sebuah perjalanan menuju ketidakpastian baru saja dimulai.

Lihat selengkapnya