Di koridor hotel The St. Regis Jakarta yang sunyi dan beralaskan marmer dingin, derap langkah kaki terdengar menggema, perlahan semakin mendekat. Sementara di balik pintu salah satu kamar eksklusif, jantung seorang gadis berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding, berusaha menyembunyikan gemetar yang tak sanggup ia kendalikan.
Titah Sekar Arum Ningtyas, gadis berusia dua puluh tahun yang masih polos, terpaksa menuruti perintah ayahnya untuk datang ke tempat mewah ini. Ia dikirim ke sini untuk melayani seorang pria yang dikabarkan bermoral buruk—semata-mata sebagai ganti pelunasan utang judi yang menumpuk tak terbayar. Wiyono, ayah kandungnya sendiri, tak segan-segan menjual masa depan putrinya demi menyelamatkan diri sendiri. Dan kini, di sinilah Titah berdiri, terperangkap dalam ketakutan yang mendalam.
"Ya Tuhan... apa yang harus kulakukan jika pria itu benar-benar merenggut segalanya yang selama ini kujaga suci? Aku begitu takut... tolonglah hamba-Mu," gumamnya lirih dalam hati, berdoa sekuat tenaga berharap ada keajaiban yang menyelamatkannya.
Ceklek...
Bunyi gagang pintu terbuka membuat tubuh Titah seketika bergetar hebat. Ruangan yang remang-remang hanya menampakkan siluet seorang pria bertubuh tegap, menjulang tinggi mendekati seratus sembilan puluh sentimeter, dengan dada bidang yang memancarkan wibawa mengintimidasi. Dialah Afgan Brawijaya Adipati—pemimpin klan yang namanya ditakuti, kejam pada musuh, dan tak pernah memberi ampun.
Saat pintu tertutup kembali di belakangnya, tubuh Titah makin menggigil kedinginan sekaligus ketakutan. "Apa yang harus kulakukan sekarang?" batinnya menjerit, makin menekan tubuh ke dinding sambil memeluk erat tas lusuh berisi pakaian ganti yang disiapkan ayahnya. Meski tega menjualnya, Wiyono seolah masih berpura-pura peduli dengan menyiapkan bekal itu, seakan tahu betapa kejamnya orang yang akan menerima putrinya.
Langkah kaki berat itu semakin mendekat, diiringi napas yang terdengar memburu karena amarah yang tertahan. Titah nyaris tak sanggup bernapas saat pria itu berhenti tak jauh darinya.
"Hei, apa yang kau lakukan bersembunyi di sana?"
Dengan sisa keberanian yang ada, Titah perlahan mengangkat wajah. Meski cahaya redup, ia bisa menangkap jelas rupa pria itu.
"Ayah bilang... dia pria tua, perut buncit, dan berkepala botak. Tapi pria ini... tidak seperti itu sama sekali..."
"Kau kirimkan untuk melayaniku?" tanya Afgan dengan suara bariton berat yang seolah bergetar menembus tulang.
Titah tertegun sejenak. Suara itu terdengar muda, berwibawa, dan sama sekali tak sesuai dengan deskripsi yang didengarnya.
"I-iya, Tuan," jawabnya terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar.
Afgan melangkah duduk di tepi ranjang empuk itu. Dengan gerakan kasar namun berwibawa, ia melepas jaket tebalnya dan melemparnya sembarangan. Tak lama kemudian, kancing kemejanya pun terbuka satu per satu, dilepas begitu saja seolah tak berharga.
"Mendekatlah. Cepat. Aku tak ingin menunggu lebih lama lagi," perintahnya dingin, nada bicaranya penuh tekanan yang membuat bulu kuduk Titah meremang ketakutan.
Titah terpaku di tempat, tubuhnya kaku seolah tertanam di lantai marmer dingin itu.
"Hei! Apa kau tuli?!"
Titah tersentak hebat mendengar bentakan itu. Dengan kaki yang terasa seberat timah, ia melangkah perlahan mendekati ranjang.
"I-iya, Tuan..."
Rasa malu dan takut menyelimuti hatinya, ia berharap bumi segera terbelah dan menelannya bulat-bulat saat itu juga. Semakin dekat ia melangkah, semakin jelas ia mendengar deru napas berat pria yang kini berdiri tegak di hadapannya.
"Lakukan saja! Apa lagi yang kau tunggu?!" pekik Afgan, suaranya terdengar tertahan seolah menahan rasa sakit yang luar biasa.
Melihat gadis itu tak bergerak, Afgan akhirnya menarik kasar pergelangan tangan Titah mendekat.