Seharusnya, kalau seseorang mati karena tersendak boba, dia tidak perlu datang lagi ke dunia ini hanya untuk menanyakan dimana sedotannya. Tapi di ruko ini, logika seringkali kalah sama rasa lapar - baik lapar karena belum makan mendoan, maupun lapar karena bunga pinjaman online yang bunganya tumbuh lebih cepat daripada jamur di dinding lembap ini.
Namaku Mamet alias Makan Memikirkan Tagihan, dan aku adalah defisini nyata dari "hidup segan, mati pun tak sanggup". Bukan karena aku takut neraka, tapi karena aku yakin di pintu akhirat pun, sudah ada dua orang penagih hutang yang menunggu sambil membawa rincian denda keterlambatanku.
"Mas, HP-mu kalau nggak dimatiin, mending dipake buat ganjel pintu aja, Berisik," suara Karsih datar, sedatar layar laptopnya yang sudah retak di pojok kiri.
Aku menatap ponsel di tanganku. Layarnya berkedip-kedip seperti lampu disko rusak. Ada dua belas panggilan tak terjawab dari 'Dana Kilat Petir'. lima dari 'Pinjaman Ceria' dan satu pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal yang isinya foto rumahku yang difoto dari jauh. Sebuah ancaman halus: Kami tahu di mana kamu tidur.
Jantungku berdegup, tapi bukan karena jatuh cinta. Ini degup kekuatan khas generasi sandwich yang menyadari bahwa gaji serabutan bulan ini habis bahkan sebelum sempat kuterima, hanya untuk menutupi bunga dari hutang yang kupakai untuk berobat ibu dan membayar uang kuliah Karsih.
"Sabar, Sih. Ini namanya melodi perjuangan," jawabku sambil menyeka keringat dingin di dahi. Aku memakai jubah hitamku yang baunya seperti apek lemari tua. "Siapkan efek suaranya. Klien kita hari ini orang kaya yang otaknya cuma setengah. Dia mau panggil arwah kucingnya yang hilang."