Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #2

1. Nafas Yang Tergadai

Pasar Senen jam sepuluh pagi bukan tempat yang tepat untuk melamun, apalagi kalau kamu punya hutang yang bunganya tumbuh lebih cepat dari jamur musim hujan.

"MAMET! JANGAN LARI KAU, BANGSAT!"

Teriakan itu membelah keriuhan penjual ikan asin. Aku tidak menoleh. Aku tahu persis siapa pemilik suara parau itu: Togar, debt collector dari aplikasi ‘Dana Kilat Petir’ yang sudah tiga hari ini meneror grup WhatsApp keluarga besarku dengan foto editan wajahku yang ditempel ke tubuh babi.

Aku melompat melewati tumpukan krat telur, menyelinap di antara ibu-ibu yang sedang menawar harga cabai, dan hampir saja terpeleset genangan air limbah pasar yang baunya sanggup mencabut nyawa. Nafasku pendek, parau, dan terasa panas di tenggorokan. Inilah nasib menjadi sandwich generation di kota besar; bagian bawah dihimpit kebutuhan adik, bagian atas ditekan hutang warisan orang tua, dan di tengah-tengahnya, aku hancur perlahan.

"Minggir, Bu! Darurat!" teriakku sambil menabrak pundak seorang bapak-bapak pembawa karung.

Aku berhasil mencapai gang sempit di belakang pasar, memanjat pagar beton yang penuh coretan, dan melompat ke sisi lain. Aku berhenti sejenak, bersandar pada tembok dengan jantung yang berdegup seperti pedal drum musik death metal. Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel murah yang layarnya sudah retak seribu.

12 Panggilan Tak Terjawab: DANA KILAT PETIR. 5 Panggilan Tak Terjawab: PINJAM CERIA. 1 Pesan WhatsApp dari Karsih: "Mas, token listrik bunyi. Sisa 2 baris. Speaker pojok mati lagi."

Aku memejamkan mata, memaki pelan. Ibu sudah tenang di alam kubur sana, tapi hutang rumah sakitnya dulu masih setia mengejarku sampai ke liang lahat. Karsih harus tetap kuliah, perut kami harus tetap diisi, dan ruko tua peninggalan Ibu adalah satu-satunya benteng pertahanan kami yang tersisa—sekaligus tempat kami menjalankan bisnis paling tidak masuk akal di dunia.

***

Sepuluh menit kemudian, aku sampai di depan ruko berlantai dua yang catnya sudah mengelupas seperti kulit yang terbakar matahari. Di atas pintunya, ada papan kayu kusam bertuliskan: "BIRO SPIRITUAL CAHAYA: Melayani Komunikasi Dua Dunia."

Aku masuk dengan nafas yang masih tersengal, langsung mengunci pintu rapat-rapat dengan tiga gembok sekaligus.

"Mas, kamu habis dikejar setan apa ditagih Togar?" suara datar itu muncul dari balik meja kayu panjang.

Karsih, adikku, tidak menoleh sedikit pun. Gadis itu sedang memakai kacamata berbingkai besar, tangannya lincah menyolder kabel audio yang mencuat dari sebuah speaker hitam tua. Di depannya, laptop dengan kipas yang berbunyi seperti mesin traktor menampilkan grafik gelombang suara yang rumit.

Lihat selengkapnya