Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #3

2. Jatuh di Tangga yang Sama

Aku selalu ingat bau rumah sakit. Bau karbon yang tajam, bercampur dengan aroma obat-obatan yang menyesakkan dada, dan suara statis dari monitor janjung yang berdetak menoton. Bagiku, itu adalah melodi perpisahan dengan masa mudaku.

Lima tahun lalu, aku bukan dukun palsu berjubal apek. Aku adalah Mamet Maheswari, pemuda dengan kemeja rapi yang baru saja diterima sebagai asisten manajer di sebuah perusahaan logistik. Aku punya mimpi sederhana: menabung, menyicil motor, dan melihat Karsih memakai toga di Universitas Negeri. Aku adalah orang yang percaya bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.

Sampai akhirnya, telepon dari tetangga itu datang saat aku sedang makan siang.

"Met, Ibu jatuh di kamar mandi. Mulutnya miring, badannya kaku."

Detik itu, duniaku seperti ditarik paksa dari bawah kakiku. Ibu terkena stroke hemoragik. Di IGD, aku melihat perempuan yang dulunya sangat kuat, yang biasa memikul karung beras, kini terbaring lemah dengan selang-selang yang menusuk tubuhnya.

"Mas... gimana biaya sekolahku?" tanya Karsih malam itu di selasar rumah sakit. Wajahnya yang masih remaja terlihat sangat pucat.

Aku mengusap kepalanya, mencoba tersenyum meskipun hatiku hancur. "Tenang, Sih. Mas kan sudah kerja. Semuanya aman."

Kebohongan pertama selalu terasa manis. Tapi kenyataan adalah pil pahit yang harus kutelan setiap pagi. Gaji asisten manajer ternyata tidak ada apa-apanya dibanding tagihan rumah sakit, obat-obatan pasca-rawat, dan biaya terapi Ibu. Aku mulai sering absen kerja karena harus menyuapi Ibu dan mengganti popoknya. Perusahaan tidak peduli seberapa berbakti kamu pada orang tuamu; mereka hanya peduli pada target bulanan.

Enam bulan kemudian, aku resmi menjadi pengangguran.

Uang tabunganku terkuras habis dalam hitungan minggu. Token listrik di rumah kami mulai sering menjerit di tengah malam. Di kulkas hanya ada telur satu butir yang kami bagi dua untuk makan seharian. Aku mulai putus asa. Aku melamar ke sana-sini, tapi siapa yang mau mempekerjakan orang yang harus pulang setiap tiga jam sekali untuk mengurus orang tua lumpuh?

Hingga suatu sore, sebuah iklan muncul di layar ponselku saat aku sedang mencari lowongan kerja.

"DANA KILAT: Cair dalam 5 Menit. Tanpa Jaminan. Hanya Butuh KTP."

Aku menatap foto Ibu yang sedang tidur pulas setelah menahan sakit seharian. Aku menatap Karsih yang sedang belajar di bawah lampu yang meremang karena kami menunggak bayar listrik. Aku butuh tiga juta rupiah untuk membeli stok obat Ibu bulan ini. Cuma Tiga Juta.

Nanti kalau aku dapat kerja serabutan, aku cicil perlahan, pikirku waktu itu. Logikaku sudah lumpuh tertutup kabut kepanikan.

Aku memotret KTP-ku. Aku memberikan akses kontak dan galeriku tanpa membaca syarat dan ketentuan. Klik. Lima menit kemudian, sebuah notifikasi masuk: Saldo Anda bertambah Rp3.000.000.

Aku merasa seperti pahlawan hari itu. Aku bisa membeli obat, aku bisa mengisi token listrik, dan aku bisa membelikan Karsih ayam goreng kesukaannya. Aku tidak tahu bahwa uang tiga juta itu adalah umpan dari kail yang akan merobek tenggorokanku perlahan-lahan.

Aku baru sadar saat jatuh tempo seminggu kemudian. Uang yang harus kukembalikan bukan tiga juta, melainkan empat juta setengah. Bunganya tidak masuk akal. Biaya adminnya gila. Dan saat aku tidak bisa membayar, teror itu dimulai.

"Halo? Ini dengan Mamet Maheswari? Kalau nggak bayar hari ini, kami telpon bosmu!"

Lihat selengkapnya