Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #4

3. Setan berbaju Safari

Aku melihat ke arah kamera CCTV kecil di atas pintu. Seorang pria raksasa dengan setelan safari hitam bernametag "BENTO" berdiri di sana. Wajahnya keras, matanya tersembunyi di balik kacamata gelap. Dia tidak terlihat seperti orang yang ingin mencari hiburan.

"Karsih," bisikku pelan. "Pakai headset-mu. Siapkan audio paling horor yang kita punya. Ikan paus baru saja masuk ke jaring."

Karsih mengangguk pelan, jemarinya menekan tombol standby di keyboard. Aku meraih jubah hitam apek di gantungan, memakai topeng wibawa seorang dukun palsu, dan membuka pintu.

Pria itu masuk, membawa aroma cerutu mahal, keringat dingin, dan aura kematian yang begitu pekat sampai-sampai asap kemenyan buatanku mendadak layu.

"Tempat ini bau bangkai," gerutu Bento. Suaranya rendah, serak seperti aspal yang digilas ban truk.

Aku berdiri di balik meja kayu, mencoba mempertahankan postur "Dukun Sakti" meskipun lututku gemetar di balik jubah apek. Di bawah meja, jempol kakiku sibuk menekan tombol bel nirkabel—kode untuk Karsih agar dia segera menyalakan mesin asap.

Wusss...

Asap putih mulai merayap dari balik tirai hitam. Pencahayaan remang-remang yang kusetel membuat ruko ini terlihat lebih luas dan menyeramkan.

"Selamat datang, Tuan," kataku dengan suara yang diberatkan dua oktaf. "Di sini, batas antara yang hidup dan yang mati hanya setipis benang jahit. Siapa yang ingin Anda cari di kegelapan?"

Bento tidak terkesan. Dia malah melangkah maju, melepaskan kacamata hitamnya, dan menatapku dengan mata yang sekeras kelereng baja. Dia meletakkan sebuah foto di atas meja kayu. Seorang pria tua dengan tatapan predator, mengenakan setelan jas Italia, dan sebuah lubang peluru tepat di tengah dahi.

"Don Carlo," bisik Bento. "Bos saya. Dia mati dua hari lalu. Tapi dia mati seperti orang kikir—membawa rahasia koper aset organisasi ke liang lahat."

Aku menelan ludah. Ini bukan klien biasa yang ingin menanyakan nomor togel atau minta putus dengan pacarnya. Ini mafia asli.

"Memanggil arwah yang mati tidak wajar membutuhkan energi yang besar, Pak," kataku, mulai masuk ke mode negosiasi. "Risikonya tinggi. Roh yang penuh amarah bisa menyerang saya."

Bento menyeringai. Dia merogoh saku kemeja safarinya dan mengeluarkan selembar cek. Dia menggesernya ke arahku dengan ujung telunjuknya. Mataku nyaris copot melihat angka yang tertera di sana.

"Lima ratus juta," kata Bento datar. "Sepuluh Juta didepan. Sisanya setelah dia bicara di mana lokasi koper itu."

Kepalaku mendadak pening. Angka itu berputar-putar di depanku seperti laron. Lima ratus juta. Itu berarti:

Lihat selengkapnya