Satu jam sebelum Bento dijadwalkan datang kembali, ruko kami berubah menjadi set film horor beranggaran rendah. Aku berdiri di depan cermin besar yang permukaannya sudah buram di lantai dua, mengenakan jubah hitam yang baunya seperti gabungan antara lemari tua dan keputusasaan.
"Kurang dapet, Mas. Ekspresinya jangan kayak orang sakit gigi. Harus lebih... transendental," kritik Karsih sambil lewat membawa gulungan kabel.
Aku menarik napas dalam, memutar bola mataku ke atas sampai hanya bagian putihnya yang terlihat, lalu menggetarkan rahangku dengan cepat. "Ugh... ahhh... rrrrgh... kegelapan... aku melihat kegelapan..."
"Nah, itu lumayan. Tapi suaranya jangan cempreng. Inget, Don Carlo itu bos mafia, bukan tukang bakso yang kesurupan," sahut Karsih lagi. Dia sedang sibuk menempelkan speaker bluetooth mungil di balik pigura foto Ibu yang tergantung di dinding.
"Sih, kamu yakin ini bakal berhasil?" tanyaku sambil membetulkan letak kumis palsu yang terus-menerus gatal. "Bento itu bukan orang bodoh. Kalau dia tahu kita pakai audio surround system buat nipu dia, kita bukan cuma bangkrut, kita bakal jadi penghuni tetap di TPU Jeruk Purut."
Karsih berhenti sejenak, menatapku lewat pantulan cermin. "Mas, pilihannya cuma dua. Kita sukses nipu dia dan dapet lima ratus juta, atau kita jujur dan besok nama kita terpampang di koran sebagai korban mutilasi karena nggak bayar pinjol. Mas mau yang mana?"
Aku terdiam. Karsih benar. Di dunia sandwich generation, moralitas adalah barang mewah yang tidak mampu kami beli.
Karsih kembali bekerja. Dia sangat teliti. Ada enam speaker mungil yang ia sembunyikan di tempat-tempat strategis: di dalam pot bunga plastik, di balik tirai, bahkan satu di dalam lubang ventilasi. Semuanya terhubung ke laptop "perang"-nya. Dia juga sudah menyiapkan folder khusus berisi suara langkah kaki, desis angin, dan rekaman suara berat yang sudah ia edit sedemikian rupa agar terdengar seperti suara Don Carlo dari alam barzakh.
"Coba tes yang 'Langkah Kaki', Sih," perintahku.
Karsih menekan satu tombol di ponselnya.
Tap... tap... tap...
Suara itu terdengar sangat nyata, seolah-olah ada orang yang berjalan tepat di belakangku. Aku refleks berbalik, meski aku tahu itu hanya tipuan audio. Karsih tersenyum tipis, kepuasan seorang teknisi terpancar di wajahnya yang pucat.
"Mesin asap aman?" tanyaku lagi.
"Aman. Sudah aku isi cairan fogger aroma kemenyan. Biar makin mistis," jawabnya. "Pokoknya, tugas Mas cuma satu: akting kesurupan yang paling lebay pas petir buatan kita nyala. Sisanya biar teknologiku yang bicara."