"Dukun! Jawab saya! Mana bos saya?!" Bento berteriak, suaranya gemetar antara amarah dan ketakutan yang luar biasa. Dia sudah berhasil berdiri, tangannya meraba-raba kegelapan, mencari sosok yang aku lihat dengan sangat jelas tepat di depannya.
Aku menelan ludah. "Dia... dia ada di sini, Pak Bento," bisikku sambil menunjuk ke depan hidung Bento.
Don Carlo yang berdiri di sana mengernyitkan dahi. "Siapa yang kamu tunjuk-tunjuk, Nak? Nggak sopan."
Don Carlo lalu menguap. "Duh, saya ngantuk sekali. Tapi perut saya lapar. Kita sudah sampai di mana ini? Rumah simpanan saya yang di Bekasi atau yang di Puncak?"
Bento mendengus kencang. Ia tidak melihat apa-apa, tapi dia merasakan perubahan suhu yang drastis. Ruangan itu mendadak jadi sedingin ruang mayat. Bento, sang tangan kanan mafia yang dikenal tak punya hati, tiba-tiba ambruk berlutut.
"Bos... Don Carlo... benarkah itu Anda?" Bento bersujud, kepalanya menyentuh lantai yang kotor. "Maafkan saya, Bos! Saya hanya ingin mengamankan aset organisasi! Tolong jangan hukum saya!"
Aku tertegun melihat pemandangan itu. Pria sangar yang tadi menodongku dengan pistol, sekarang gemetar seperti anak kecil di depan udara kosong. Sementara itu, Don Carlo justru tampak jijik melihat Bento yang sujud di kakinya (yang sebenarnya tembus ke lantai).
"Bento? Kamu ngapain nungging begitu? Kamu habis kehilangan kontak lensa atau lagi nyari cicak?" tanya Don Carlo padaku dengan wajah polos.
Tiba-tiba, tirai di pojok ruangan tersibak. Karsih muncul dengan wajah cemong terkena jelaga ledakan laptop. Dia memegang senter kecil yang cahayanya menyorot ke arahku.
"Mas Mamet! Kamu nggak apa-apa? Laptopnya meledak total, Mas! Aduh, semesteranku gimana ini..." Karsih meracau panik. Dia mengarahkan senternya ke seluruh ruangan.
Cahaya senter Karsih menembus tubuh Don Carlo seolah pria tua itu hanya terbuat dari asap tipis. Karsih melihat Bento yang sedang sujud-sujud ke arah udara kosong, lalu dia melihat aku yang sedang melongo menatap titik yang sama.
"Mas... kamu ngapain melongo gitu?" tanya Karsih bingung. "Dan itu si Om Mafia kenapa malah yoga di lantai?"
"Sih... kamu nggak liat?" bisikku gemetar.
"Liat apa? Gelap gini. Cuma ada Om ini yang lagi sujud nggak jelas. Mas, kamu jangan bilang kamu beneran kesurupan ya? Nggak lucu, aktingnya udah selesai! Laptopnya udah mati!"
Aku memandang Don Carlo. Don Carlo memandangku. Dia lalu melambai ke arah Karsih.
"Halo, Nduk. Manis sekali adiknya. Tapi kok dia nggak liat saya ya?" Don Carlo bertanya sambil mencoba menyentuh bahu Karsih, tapi tangannya lewat begitu saja seperti menembus kabut. "Oh... saya baru ingat. Saya kan sudah ditembak ya?"
Don Carlo memegang dadanya yang berdarah, lalu menatap tangannya dengan ekspresi 'Eureka!'.
"Pantas saja rasanya agak plong di bagian dada. Saya sudah mati ya, Nak?"