Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #8

7. Perburuan Gigi dan Mendoan Barzakh

Keheningan yang menyergap ruko pasca kepergian Bento terasa lebih mencekik daripada saat pria raksasa itu menodongkan pistol. Bau hangus dari laptop Karsih masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma kemenyan murah yang sekarang terasa sangat ironis. Aku terduduk lemas di lantai semen yang dingin, menatap lurus ke arah kursi kayu kosong yang bagi mataku sama sekali tidak kosong.

Di sana, Don Carlo sedang nungging. Arwah bos mafia yang paling ditakuti se-Asia Tenggara itu sedang memasukkan kepalanya ke bawah kolong meja altar, tangannya yang transparan meraba-raba tumpukan debu dan puntung rokok lama.

"Nak Memet, bantu dong. Jangan cuma bengong," keluhnya. Suaranya terdengar seperti gema di dalam kaleng biskuit. "Gigi itu harganya lebih mahal dari harga diri Bento. Kalau nggak ada gigi itu, saya nggak bisa artikulasi dengan jelas. Masa mafia ngomongnya cadel? Jatuh wibawa saya."

Aku memijat pelipisku yang berdenyut. "Nama saya Mamet, Om. Pakai 'A'. Bukan Memet."

"Mas..." Karsih berbisik, suaranya gemetar. Dia duduk dua meter dariku, memeluk lututnya erat-erat. "Kamu... kamu beneran lagi ngomong sama sesuatu di sana?"

Aku menoleh ke arah Karsih. Wajahnya yang cemong jelaga terlihat sangat pucat di bawah sinar rembulan yang masuk lewat jendela pecah. "Sih, aku tahu ini kedengeran gila. Aku tahu kamu mikir aku kena gangguan saraf gara-gara kesetrum tadi. Tapi sumpah demi ijazahmu yang belum lunas itu, Don Carlo ada di sini. Dia lagi nyari gigi palsu bawah meja."

Karsih menatap kolong meja. Kosong. Bagi dia, di sana hanya ada kegelapan dan debu. "Mas, tolong jangan begini. Kalau kamu gila, aku sama siapa? Aku nggak bisa bayar pinjol sendirian pakai suara MP3 kuntilanak!"

"Saya nggak gila, Nduk," sela Don Carlo tiba-tiba. Dia bangkit berdiri, menembus permukaan meja seolah benda padat itu hanya terbuat dari air. Dia menatap Karsih dengan iba. "Kasihan ya adiknya. Cantik-cantik tapi kurang peka spiritual. Kurang makan sayur kayaknya."

Don Carlo kemudian berjalan mendekat ke arah Karsih. Aku panik.

"Om! Jangan deket-deket dia!" teriakku.

Karsih menjerit pendek, meloncat berdiri dan berlari ke belakang punggungku. "Apa? Dia ngapain? Dia mau cekik aku?"

"Enggak, dia cuma bilang kamu kurang makan sayur," kataku jujur.

Don Carlo mendengus, lalu kembali fokus ke lantai. "Duh, di mana ya? Pas petir jedor tadi, saya kaget, mulut saya mangap, lalu plung... gigi itu terbang. Kayaknya masuk ke sela-sela ubin yang retak itu deh."

Aku menghela napas pasrah. Dengan sisa tenaga yang ada, aku merangkak menuju titik yang ditunjuk Don Carlo. Aku meraba sela-sela ubin yang pecah di dekat kaki meja. Dan benar saja, jemariku menyentuh sesuatu yang keras, licin, dan dingin.

Aku mengangkat benda itu. Sebuah rangkaian gigi palsu bagian bawah yang tampak sangat mewah, dengan satu titik emas di bagian gerahamnya.

"Ini?" tanyaku.

Don Carlo memekik senang—suaranya mirip suara rem bus yang blong. "Nah! Itu dia! Sini, Nak, balikin ke yang punya."

Aku ragu. Bagaimana cara memberikan benda padat ini kepada sosok yang tembus pandang? Aku mencoba menyodorkannya, dan secara ajaib, saat tangan Don Carlo menyentuh gigi itu, benda tersebut perlahan memudar, berubah menjadi bayangan abu-abu, dan berpindah ke tangannya. Don Carlo dengan sigap memasukkan gigi itu ke mulutnya. Klik.

"Ah... mantap," Don Carlo berdehem, suaranya sekarang jauh lebih berat dan berwibawa. Dia membetulkan kerah jas abu-abunya yang bersimbah darah. "Sekarang, tinggal satu masalah lagi. Perut saya lapar sekali. Perasaan sebelum ditembak kemarin saya belum sempat makan siang gara-gara rapat dewan mafia yang bertele-tele."

"Om, Anda itu sudah meninggal," kataku mengingatkan. "Orang mati nggak butuh makan."

Don Carlo menatapku dengan tatapan meremehkan. "Nak, mati itu cuma status di KTP barzakh. Tapi nafsu makan itu urusan jiwa. Kamu pikir kenapa orang-orang kasih sesajen mawar sama kopi hitam? Ya karena kami lapar! Tapi saya nggak level sama bunga-bungaan. Saya mau mendoan. Mendoan warteg depan pasar yang digorengnya setengah matang, tepungnya tebal, dan cabai rawitnya harus yang warna hijau tua."

Aku melongo. "Tapi ini sudah jam sepuluh malam lewat, Om! Wartegnya mungkin sudah tutup!"

"Warteg Bu Bahari nggak pernah tutup, Nak. Saya tahu karena dulu sopir saya sering beli di sana kalau saya lagi ada 'urusan' di area sini," Don Carlo bersedekap. "Cepat. Kalau saya lapar, saya jadi pelupa. Kamu mau tahu lokasi koper itu, kan?"

Mendengar kata 'koper', otakku langsung berputar cepat. Lima ratus juta. Cek di bawah altar. Hutang pinjol.

Lihat selengkapnya