Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #9

8. Sopir yang Tertukar

Mobil tua peninggalan Bapak menderu kasar saat aku menginjak pedal gas dalam-dalam. Di bangku penumpang depan, Karsih memeluk tas laptopnya yang hangus seolah itu adalah pelampung di tengah samudra. Di kursi belakang, Don Carlo duduk dengan tenang, menembus sandaran jok kulit yang sudah robek-robek.

“Nak Memet, pelan sedikit bawa mobilnya. Saya ini mau ke rapat dewan, bukan mau balapan liar di sirkuit,” tegur Don Carlo. Suaranya terdengar sangat santai, kontras dengan suasana horor yang kami alami.

Aku tidak menoleh. Mataku terus memantau kaca spion, mencari-cari kilatan lampu SUV hitam milik Bento yang mungkin sudah mulai mengejar. “Nama saya Mamet, Om! Dan kita bukan mau ke rapat, kita mau kabur dari Bento!”

Don Carlo terdiam sejenak. Dia membetulkan letak gigi palsunya dengan bunyi klik yang menyebalkan. Tiba-tiba, raut wajahnya berubah. Matanya yang merah redup menatap punggung kepalaku dengan penuh selidik.

“Tunggu sebentar... kamu bukan Nak Memet,” gumamnya. “Jaket dekil itu... gaya nyetir yang gragas itu... Ah! Kamu ini si Juki, kan? Sopir saya yang dulu saya pecat gara-gara ketahuan selingkuh sama istri tukang kebun saya?”

Aku menghela napas panjang, hampir saja menabrak kucing yang menyeberang. “Saya bukan Juki, Om! Saya dukun palsu yang Om hantui di ruko tadi!”

“Halah, nggak usah bohong kamu, Juk! Saya masih ingat tahi lalat di leher belakang kamu itu,” Don Carlo tertawa kecil, suara tawanya kini terdengar seperti radio yang kekurangan sinyal. “Sudah, sudah. Saya maafkan. Tapi antar saya ke rumah dulu. Saya mau ganti jas. Jas ini rasanya basah sekali, kayaknya kena tumpahan saus tomat pas di gudang tadi.”

“Itu bukan saus tomat, Om! Itu darah!” jerit Karsih dari bangku depan, tanpa berani menoleh ke belakang.

“Darah? Darah siapa?” Don Carlo celingukan, menembus bodi mobil untuk melihat ban. “Apa kita baru saja menabrak tukang bakso? Duh, Juki, kamu ini makin ceroboh saja ya.”

Aku melirik Karsih yang wajahnya sudah seperti kertas putih. “Sih, kayaknya demensianya mulai kumat lagi. Dia beneran lupa kalau dia sudah mati.”

“Mas, tolong,” bisik Karsih gemetar. “Tanya dia sekarang. Mumpung dia masih mau ngomong. Di mana kopernya? Sebelum dia lupa namanya sendiri!”

Aku berdehem, mencoba mengikuti alur kegilaan ini. “Ehem... Bos... ini saya, Juki. Maafkan saya soal istri tukang kebun itu. Tapi, anu... koper hitam yang waktu itu kita bawa ke gudang... Bos simpan di mana ya? Saya lupa naro, Bos.”

Don Carlo tampak berpikir keras. Dia mengetuk-ngetuk lubang peluru di dahinya—sebuah pemandangan yang membuat perutku mual. “Koper hitam? Oh, koper yang isinya 'masa depan' itu? Ya di bagasi mobil lah, Juk! Masa kamu nggak liat?”

Aku refleks menginjak rem sampai mobil kami terhenti dengan suara decit ban yang memekakkan telinga di pinggir jalan yang sepi.

“Di bagasi? Mobil yang mana? Mobil ini?!” tanyaku antusias.

“Ya mobil yang warna hitam legam itu! Yang ada logo bantengnya! Mobil yang... yang...” Don Carlo mendadak diam. Tatapannya menjadi kosong. “Mobil... mobil apa ya tadi? Juki, kita ini lagi ngapain sih di pinggir jalan? Saya lapar, mau beli mendoan.”

“Tadi kan sudah makan mendoan, Om!” teriakku frustrasi, memukul setir mobil.

“Masa? Kok perut saya masih keroncongan? Eh, kamu siapa? Juki mana? Kenapa kamu bawa saya pakai mobil butut begini? Di mana mobil limosin saya?!” Don Carlo mulai panik, tubuh transparannya mulai berkedip-kedip tidak stabil seperti lampu neon rusak.

Karsih mulai menangis pelan. “Mas, kita bakal mati... kita beneran bakal mati dikejar mafia gara-gara asisten kita hantu pikun.”

Lihat selengkapnya