Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #10

9. Rebutan Sinyal Ghaib

Kami sampai di ruko dengan napas memburu. Keadaan ruko masih berantakan sisa ledakan tadi. Bau hangus kabel belum hilang sepenuhnya. Karsih langsung berlari ke arah dispenser untuk minum, sementara aku segera menuju meja untuk mencari kunci motor.

"Nak Mamet, kok rukonya makin berantakan? Kamu ini dukun atau tukang rongsokan?" Don Carlo berjalan melayang, menembus tumpukan kardus speaker.

Tiba-tiba, suhu di dalam ruko yang tadinya dingin karena kehadiran Don Carlo, mendadak berubah menjadi aneh. Ada sensasi lengket dan manis di udara, seperti bau sirup karamel yang hangus.

"Woy! Siapa nih yang bawa kakek-kakek jas darah ke sini? Ganggu privasi gue aja!"

Sebuah suara cempreng muncul dari arah pojok ruangan, tempat mesin asap berada. Perlahan, sesosok remaja laki-laki muncul. Dia memakai hoodie kuning yang sudah kusam, celana pendek, dan yang paling mencolok: sebuah gelas plastik boba masih menggantung di tangannya. Wajahnya agak biru, dengan mata yang melotot seolah sedang berusaha menelan sesuatu yang keras.

"Siapa kamu?!" aku berteriak kaget sampai terjungkal ke belakang meja.

"Lah, Bang Mamet amnesia? Gue Ujang! Penghuni tetap sini yang tiap malam lu kasih sesajen biskuit sisa!" Arwah remaja itu mendengus. Dia mencoba menyedot bobanya, tapi tentu saja tidak ada yang masuk ke mulutnya. "Gue lagi asyik scrolling TikTok di alam sebelah, tiba-tiba sinyal gue keganggu gara-gara frekuensi si kakek ini!"

Don Carlo berdiri tegak, membusungkan dadanya yang bolong. "Kurang ajar! Kamu panggil saya kakek? Saya ini Don Carlo! Penguasa bisnis hitam dari Utara sampai Selatan!"

"Don Carlo? Nama lu kayak merk sirup, Kek," sahut Ujang santai. Dia melayang mendekati Don Carlo, lalu mengendus-endus jasnya. "Bau darah lu amis banget, ganggu aroma boba gue tahu nggak? Bang Mamet, usir nih hantu kolonial! Gue nggak bisa foya-foya kalau dia ada di sini!"

"Mas... kamu ngomong sama siapa lagi?!" Karsih berteriak dari depan dispenser, wajahnya pucat pasi melihatku bicara ke arah pojok ruangan yang kosong (baginya).

"Ada hantu baru, Sih! Namanya Ujang, korbannya boba!" jawabku panik.

"Ujang? Oh, hantu yang mati tersedak boba yang sering Mas ceritain itu? Dia beneran ada?!" Karsih menutup mulutnya.

"Gue dibilang beneran ada? Ya iyalah! Emang gue imajinasi Bang Mamet yang lagi kena pinjol?!" seru Ujang tersinggung.

Ujang kemudian melayang ke arah laptop Karsih yang meledak. Dia menyentuh sisa-sisa kabelnya. Tiba-tiba, lampu ruko yang mati mulai berkedip-kedip mengikuti irama musik jedag-jedug yang entah datang dari mana.

"Woi, bocah ingusan! Berhenti mainin lampu! Saya lagi coba ingat-ingat kode brankas!" bentak Don Carlo. Suara Don Carlo yang berat beradu dengan suara cempreng Ujang, menciptakan dengungan frekuensi yang membuat kepalaku mau pecah.

"Diem lu, Aki-aki! Lu tuh cuma 'salah sambung'! Sinyal lu tuh ilegal di ruko ini!" balas Ujang.

Keduanya mulai berebut tempat di tengah lingkaran kapur. Efeknya luar biasa: suhu ruko mendadak panas, lalu dingin, lalu tercium bau mendoan, lalu bau brown sugar. Aku terjepit di antara bos mafia demensia dan remaja labil yang mati konyol.

Lihat selengkapnya