Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #11

10: Warisan Berupa Angka Merah

Ada jenis keheningan yang lebih berisik daripada teriakan. Keheningan itu terjadi di koridor rumah sakit jam tiga pagi, saat suara gesekan sandal perawat di lantai polimer terdengar seperti gergaji yang memotong saraf.

Malam itu, hujan turun seperti sedang punya dendam pada Jakarta. Aku duduk di bangku plastik keras, menatap pintu ICU yang tertutup rapat. Di tanganku ada plastik kresek berisi pakaian kotor Ibu yang berbau keringat dan minyak kayu putih.

“Keluarga Ibu Darmini Subroto?”

Suara dokter itu datar. Terlalu sering mengucapkan kalimat yang sama hingga nada empati di suaranya sudah terkikis habis. Aku berdiri, lututku bergetar. Aku tidak perlu mendengar kata-kata selanjutnya untuk tahu bahwa duniaku baru saja runtuh.

“Kami sudah melakukan yang terbaik. Ibu sudah tenang.”

Napas aku tercekat. Aku ingin menangis, tapi pikiranku malah melakukan sesuatu yang sangat tidak sopan: menghitung biaya. Biaya ruang ICU per malam, biaya obat-obatan yang belum ditebus, biaya ambulans, biaya memandikan jenazah, biaya liang lahat. Otakku bekerja seperti kalkulator rusak yang terus memuntahkan angka-angka merah.

Tiga jam setelah Ibu dinyatakan meninggal, aku duduk di ruang administrasi. Petugas di sana menyodorkan selembar kertas panjang. Totalnya melampaui tabunganku, gaji terakhirku yang sudah habis, dan harga ginjalku sekalipun.

"Mas, ini tagihannya harus dilunasi sebelum jenazahnya bisa dibawa pulang," kata petugas itu tanpa melihat wajahku.

Aku keluar ke parkiran rumah sakit. Hujan masih deras. Aku merogoh saku, mencari ponsel. Di situlah aku melihatnya notifikasi iklan yang selama ini aku abaikan. "UANG KITA: Cair 5 Menit. Butuh KTP Saja."

Itu adalah jalan keluar nya aku menekan tombol Install. Sebuah perjanjian dengan iblis yang kukemas dalam bentuk aplikasi berwarna hijau ceria. Aku memotret KTP-ku di bawah lampu jalan yang remang. Aku memberikan akses kontak. Aku memberikan akses lokasi. Aku memberikan segalanya hanya agar aku bisa menguburkan Ibu dengan layak.

Dua hari setelah pemakaman, saat tanah di makam Ibu masih basah, aku kembali ke ruko tua ini. Karsih sedang tidur di lantai dua, kelelahan setelah menangis berhari-hari. Aku duduk di depan meja kerja, mencoba membereskan surat-surat yang ditinggalkannya.

Di laci paling bawah, aku menemukan sebuah kotak sepatu. Isinya bukan foto kenangan atau surat cinta. Isinya adalah tumpukan amplop tagihan bank, surat peringatan penyitaan, dan catatan tangan Ibu yang gemetar.

“Met, maafkan Ibu. Biaya sekolah Karsih dan obat Ibu mahal. Ibu pinjam sana-sini. Jangan kasih tahu Karsih.”

Aku menjatuhkan kertas itu. Kepalaku terasa ringan, seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Ibu tidak meninggalkan warisan tanah atau emas. Dia meninggalkan jaringan hutang yang sudah berakar dan berurat.

Dan tepat saat itu, ponselku berbunyi.

Drt... drt...

Bukan ucapan belasungkawa. Itu adalah pesan pertama dari Dana Kilat.

Lihat selengkapnya