Pintu ruko yang sudah ringkih itu bergetar hebat, seolah-olah ada raksasa yang sedang mencoba mendobraknya dengan palu godam. Suara Bento yang berat dan serak terdengar sampai ke lantai dua, menembus debu-debu yang menari di udara.
"MAMET! BUKA! SAYA TAHU KAMU ADA DI DALAM!"
Aku menelan ludah. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai meluncur dari pelipisku. Aku melirik Don Carlo yang malah asyik duduk bersila di udara, memperhatikan kukunya yang transparan seolah-olah dia sedang berada di ruang tunggu spa, bukan di tengah ancaman maut.
"Don, ayolah. Pasang muka serem dikit napa?" bisikku sambil buru-buru memakai jubah hitam kakek yang baunya mirip kamper dicampur apek gudang.
"Wibawa itu muncul dari ketenangan, Met. Bukan dari muka diserem-seremin kayak orang sembelit," sahut Don Carlo santai.
Aku tidak sempat membalas. Aku segera turun ke bawah, memasang wajah yang kusemperitkan sedikit misterius—meski aslinya lebih mirip orang yang belum bayar kontrakan tiga bulan. Aku membuka grendel pintu ruko perlahan.
Sreeek...
Bento berdiri di sana dengan dua pengawal berbadan kotak yang kacamata hitamnya lebih mahal dari harga motor bebekku. Napas Bento memburu, aroma cerutu mahalnya langsung menjajah udara ruko yang pengap.
"Mana?" tanya Bento tanpa basa-basi. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut ruangan, mencari koper hitam yang dia dambakan.
Aku berdehem, mencoba mengatur frekuensi suaraku agar terdengar lebih 'bas' dan berwibawa. "Sabar, Pak Bento. Dunia gaib itu tidak pakai sistem express delivery. Petir semalam hampir membakar ruko saya, tapi hasilnya sudah mulai terlihat."
Bento melangkah maju, mempersempit jarak di antara kami hingga aku bisa mencium bau mint dari permen karet yang dia kunyah. "Jangan main-main sama saya, Mamet. 500 juta itu uang besar. Kalau sampai matahari terbenam hari ini saya belum dapat lokasi koper itu, kamu bakal saya bikin jadi penghuni tetap alam gaib bareng Ibu."
Aku melirik Don Carlo yang sekarang berdiri di belakang Bento, sedang mencoba 'meniup' tengkuk si asistes bos mafia itu. Bento bergidik sedikit, mengusap leher belakangnya dengan wajah bingung.
"Don! Sekarang!" bisikku nyaris tak terdengar.
Don Carlo mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Met... saya ingat sesuatu."
"Alhamdulillah," batinku lega. Aku menatap Bento dengan penuh keyakinan. "Arwah Don Carlo sudah mulai memberikan petunjuk, Pak Bento. Dia bilang..."
"Dia bilang saya laper, Met," potong Don Carlo dengan nada datar.
Mataku melotot. "Apa?!"
Bento mengernyitkan alis. "Apa yang 'apa'? Dia bilang apa?"
Aku langsung gelagapan. "Maksud saya... apa... apalagi yang Anda tunggu, Pak Bento? Don Carlo bilang dia butuh... sesaji khusus untuk membuka portal memorinya yang tertutup badai semalam."
Bento melipat tangan di dada, tampak skeptis. "Sesaji? Ayam cemani? Darah perawan?"
Aku menoleh ke arah Don Carlo dengan tatapan 'Lu-Beneran-Minta-Darah-Perawan?'.
Don Carlo menggeleng pelan. "Mendoan, Met. Mendoan Warteg Bahari yang di pojok pasar itu. Yang tepungnya tebal, lembek, dan cabe rawitnya diiris tipis-tipis di kecap manis. Kalau tidak ada mendoan itu, saya mogok bicara. Memori saya butuh pelumas gorengan."
Aku ingin menjerit. Benar-benar ingin menjerit. Di depanku ada maut dalam bentuk bos mafia, dan di sampingku ada hantu legendaris yang mogok kerja cuma gara-gara gorengan dua ribu perak.
"Dia minta... mendoan, Pak Bento," kataku lirih.
Hening sejenak. Pengawal Bento saling lirik. Bento sendiri menatapku seolah aku baru saja mengatakan bahwa solusi perdamaian dunia adalah es cendol.
"Mendoan?" ulang Bento, suaranya naik satu oktav. "Kamu memanggil arwah mafia paling ditakuti di Jakarta, dan dia minta gorengan?"