Jakarta itu sempit, tapi grup WhatsApp warga jauh lebih sempit. Hanya butuh waktu lima belas menit sejak aku meninggalkan Warteg Bahari bagi namaku untuk terseret dari satu ponsel ke ponsel lainnya, layaknya bola api yang dilempar di tengah padang ilalang kering.
Aku sedang memacu motor bebekku menuju ruko saat ponsel di saku celanaku bergetar tanpa henti. Getarannya begitu konstan sampai-sampai paha kiriku terasa kesemutan. Aku menepi sejenak di bawah pohon peneduh yang daunnya meranggas, sementara Don Carlo melayang di atas spion, sibuk memandangi pantulan dirinya yang tidak ada.
"Met, kamu itu populer ya," ujar Don Carlo tanpa dosa. "Dari tadi benda di sakumu itu berisik terus. Seperti bunyi alarm brankas bank yang sedang dibobol."
"Populer gila, Don. Bukan populer hebat," gerutuku sambil membuka layar ponsel.
Benar saja. Grup WhatsApp "Warga Gang Sejahtera" sudah meledak. Ada video pendek berdurasi sepuluh detik yang diambil dengan sudut pandang agak miring—jelas hasil karya Bu RT. Di video itu, aku terlihat sedang menyodorkan piring mendoan ke kursi kosong sambil manggut-manggut serius.
Bu RT (Admin): Ibu-ibu, bapak-bapak... mohon doanya untuk Mas Mamet. Sepertinya beban hidup karena ruko mau disita sudah mulai mengganggu kesehatan mentalnya. Tadi saya pergoki sedang memberi makan 'Jin Mendoan' di Warteg Bahari. Kasihan, masih muda sudah bicara sama angin.
Pak Haji (Warga): Astagfirullah. Itu bukan jin mendoan Bu, itu mungkin pengaruh ilmu hitam gara-gara sering nyimpen barang-barang antik kakeknya di ruko. Harus diruqyah itu.
Toko Sembako Jaya: Pantesan kemarin saya tagih bon kopi, dia jawabnya 'nanti tunggu wangsit'. Ternyata wangsitnya dari gorengan.
Aku mematikan layar dengan perasaan dongkol yang mencapai ubun-ubun. "Hebat. Sekarang seluruh Gang tahu kalau saya sudah nggak waras. Karir dukun saya bisa hancur sebelum berkembang kalau reputasinya jadi 'Dukun Gorengan' begini."
Don Carlo tertawa, suaranya terdengar seperti gesekan kertas amplas tua. "Setidaknya mereka mengira kamu gila, Met. Orang gila itu biasanya dibiarkan. Tidak ada yang takut pada orang gila. Itu keuntungan strategis."
"Keuntungan strategis apanya? Yang ada saya malah bakal dikirim ke RSJ sebelum sempat ketemu koper Anda!"
Begitu aku sampai di depan ruko, pemandangannya lebih buruk dari yang kubayangkan. Bukan hanya mobil Mercedes Bento yang masih parkir di sana, tapi ada kerumunan kecil ibu-ibu dasteran yang berdiri agak jauh, menunjuk-nunjuk ke arah rukoku sambil berbisik-bisik.
"Itu orangnya! Itu Mas Mamet!" bisik salah satu dari mereka saat aku turun dari motor.
Aku berusaha memasang muka tembok. Aku melangkah masuk ke ruko, di mana Bento sudah duduk di kursi kerja Bapak dengan kaki diangkat ke atas meja. Dua pengawalnya berdiri tegak seperti patung di sisi pintu.
"Lama sekali kamu, Met," kata Bento dingin. "Saya baru saja baca sesuatu yang menarik di internet. Ada video viral tentang 'Dukun Mendoan'. Kamu sedang mencari panggung atau memang sudah kehilangan akal?"
Aku meletakkan bungkusan mendoan sisa di atas meja dengan tenang—setidaknya aku mencoba terlihat tenang. "Itu bagian dari penyamaran, Pak Bento. Dunia gaib butuh pengalihan isu. Kalau orang mengira saya gila, mereka tidak akan curiga dengan apa yang sebenarnya sedang kita lakukan."
Bento berdiri, matanya menyipit. "Saya tidak peduli kamu gila atau jenius. Yang saya peduli adalah alamat tadi. alamat koper itu dimana?"
"Arwah Don Carlo tidak pernah bohong kalau perutnya sudah terganjal tepung," jawabku mantap, meski dalam hati aku berdoa semoga memori Don Carlo tidak sedang glitch lagi.