Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #14

13. Labirin Memori dan Pagar Tinggi

Mobil Mercedes hitam milik Bento meluncur mulus membelah aspal Jakarta Selatan yang mulai merayap padat. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana justru terasa sangat bising bagi kepalaku. Bento duduk di sebelahku dengan aura yang lebih dingin dari AC mobil, sementara Karsih di jok depan masih sibuk ngedumel sambil memeluk tas alat-alatnya.

"Don, fokus! Kita sudah masuk wilayah Sektor Tujuh. Jangan sampai kita nyasar ke rumah mantan Anda yang lain," bisikku sambil pura-pura batuk untuk menutupi gerakan bibir.

Don Carlo, yang sekarang duduk anteng di kap depan mobil (secara teknis tembus pandang bagi orang lain), tampak sedang berjuang keras melawan kepikunan hantunya. "Sabar, Met! Saya ini sudah jadi arwah selama lima tahun. Bayangkan memori saya itu kayak hard disk karatan yang dipaksa loading data berat!"

Bento melirikku dari balik kacamata hitamnya. "Mamet, kamu dari tadi gelisah terus. Sinyalnya masih buffering?"

"Eh, anu, Pak. Ini... frekuensinya lagi banyak gangguan sinyal radio. Maklum, perumahan orang kaya biasanya banyak pemancar," jawabku asal.

Rumah "Simpanan" yang Terlupakan

Mobil kami melambat saat memasuki kawasan dengan deretan rumah yang luasnya bisa buat main bola. Don Carlo tiba-tiba berdiri tegak di kap mobil, membuat logo Mercedes itu seolah-olah menembus tubuh hantunya yang transparan.

"Nah! Nah! Itu! Belok kiri setelah patung malaikat yang pipinya tembem itu!" seru Don Carlo dengan semangat.

"Belok kiri, Pak!" kataku pada sopir Bento.

Mobil berbelok. Kami sampai di sebuah jalan buntu yang hanya berisi tiga rumah besar. Don Carlo menunjuk ke arah rumah paling ujung, sebuah bangunan bergaya Art Deco dengan pagar besi hitam yang tinggi dan terlihat sangat tidak bersahabat.

"Rumah nomor tiga belas. Itu tempatnya," gumam Don Carlo. Suaranya mendadak melembut, ada nada duka yang terselip di sana. "Itu rumah Sofia. Wanita paling sabar yang pernah saya kenal. Dia bukan istri resmi saya, Met. Tapi dia yang pegang seluruh kunci hidup saya."

"Sofia? Jadi koper itu di sana?" tanyaku pelan.

"Ingatan saya bilang begitu. Tapi masalahnya..." Don Carlo garuk-garuk kepala, "Saya lupa Sofia itu orangnya tipe yang suka bersih-bersih atau tipe penimbun barang. Kalau dia tipe penimbun, kita bakal setengah mati nyarinya di dalam."

Aku berdehem. "Pak Bento, itu rumahnya. Blok Cerry Nomor 13."

Bento menyipitkan mata, menatap rumah yang tampak sunyi itu. "Rumah ini terlihat kosong. Kamu yakin? Kalau saya sampai mendobrak rumah pejabat, kamu saya jadikan umpan hiu."

Lihat selengkapnya