Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #15

14. Mahkota Berduri dan Meja Makan yang Luas

Suasana di lantai dua rumah nomor tiga belas itu terasa lebih berat daripada di bawah. Debu yang menari-nari di bawah sorot senter para pengawal Bento tampak seperti partikel memori yang menolak untuk menetap. Karsih sudah berjongkok di depan pintu kamar utama, mengeluarkan seperangkat alat yang lebih mirip perlengkapan dokter bedah daripada teknisi ruko.

"Mas, jangan berisik. Panel ini sensitif banget. Salah dikit, kita semua bakal mandi gas air mata," bisik Karsih tanpa menoleh.

Bento berdiri bersandar pada dinding, matanya yang tajam mengawasi setiap sudut lorong. Sementara itu, aku menatap Don Carlo. Hantu itu tidak lagi cerewet soal kode atau lokasi. Dia berdiri diam di depan sebuah cermin besar yang permukaannya sudah kusam. Dia menatap pantulan dirinya—yang tentu saja tidak ada—lalu menoleh ke arah sebuah kursi goyang tua di sudut ruangan.

"Met," bisik Don Carlo. Suaranya kali ini tidak terdengar seperti bos mafia yang memerintah. Suaranya terdengar seperti pria tua yang kehilangan arah. "Kamu tahu kenapa saya bangun rumah ini? Kenapa saya harus punya 'simpanan'?"

Aku mendekat, menjaga jarak agar Bento tidak curiga. "Kenapa, Don? Karena bos mafia memang biasanya punya banyak rumah?"

Don Carlo tersenyum pahit. "Karena di rumah utama, saya bukan manusia. Saya adalah 'Don'. Saya adalah aset. Saya adalah target. Di sana, setiap piring yang saya makan harus dicicipi dulu oleh orang lain. Setiap bantal yang saya tiduri harus diperiksa kalau-kalau ada jarum beracun. Kesepian itu harganya mahal, Met. Lebih mahal dari ruko kamu."

Tiba-tiba, pemandangan di sekitarku seolah bergetar. Hawa dingin yang menusuk tulang membuat pandanganku mengabur. Ini dia—flashback paksa. Aku tersedot ke dalam memori Don Carlo.

Jakarta, Sepuluh Tahun yang Lalu

Ruangan ini tidak lagi berdebu. Wangi lilin aromaterapi dan parfum mahal menyeruak. Lampu kristal di plafon bersinar terang, memantulkan cahaya pada lantai marmer yang mengkilap. Don Carlo—saat dia masih hidup, masih berotot, dan masih memiliki warna di kulitnya—duduk di ujung meja makan yang sangat panjang.

Di depannya tersedia hidangan mewah. Steak wagyu, anggur merah tahun tua, dan berbagai macam hidangan laut. Tapi, Don Carlo hanya sendirian. Sepuluh kursi di sisi kiri dan kanannya kosong melompong.

Seorang pelayan mendekat dengan gemetar. "Tuan, apakah ingin ditambah minumnya?"

Don Carlo muda hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. "Keluar. Saya mau sendiri."

Begitu pelayan itu pergi, Don Carlo menghela napas panjang. Dia tidak menyentuh steaknya. Dia malah merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sepotong gorengan—mendoan yang sudah dingin dan berminyak—yang dibungkus kertas koran.

Dia memakan mendoan itu di tengah kemewahan ruang makannya.

"Dulu, saat saya masih jadi supir truk, saya makan mendoan di pinggir jalan sama teman-teman. Kami tertawa sampai tersedak," gumam Don Carlo pada dirinya sendiri di masa lalu. "Sekarang, saya bisa beli seluruh pabrik tepungnya, tapi saya nggak punya teman buat tertawa."

Dia berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota. Jakarta tampak seperti hamparan berlian di bawah sana. Dia menguasai hampir separuh bisnis gelap di kota ini. Dia punya kekuasaan untuk melenyapkan orang hanya dengan jentikan jari. Tapi malam itu, dia hanya merasa seperti titik kecil yang tidak berarti.

Memori itu bergeser. Don Carlo sedang berada di dalam mobil, menyetir sendiri tanpa pengawalan—sebuah tindakan bunuh diri bagi pria di posisinya. Dia berhenti di depan rumah nomor tiga belas ini.

Pintu terbuka, dan seorang wanita dengan daster sederhana namun wajah yang memancarkan ketenangan menyambutnya. Sofia. Dia tidak bertanya soal bisnis, tidak bertanya soal uang, dan tidak bertanya siapa yang ingin dibunuh Don Carlo hari itu.

"Kamu telat, Carlo. Sop buntutnya sudah hampir dingin," kata Sofia sambil mengambil jas Don Carlo.

"Tadi ada urusan sama orang-orang di Sektor Dua," jawab Carlo singkat.

Lihat selengkapnya