Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #16

15. Sandi Antara Hidup, Mati, dan Lupa

Pintu kamar Sofia akhirnya terbuka dengan suara klik yang sangat elegan—suara yang biasanya menandakan keberhasilan, tapi bagi jantungku, itu adalah suara awal dari maraton kegelisahan. Kami melangkah masuk ke dalam kamar yang luasnya lebih besar daripada ruko dua lantai milikku.

"Karsih, jaga pintu. Pak Bento, silakan masuk, tapi tolong jangan sentuh apa-apa dulu. Aura di sini... eh... sangat sensitif," kataku, mencoba berlagak profesional sambil mengibas-ngibaskan jubah hitamku yang sebenarnya cuma bau apek matahari.

Don Carlo melayang masuk ke tengah ruangan. Dia menatap sekeliling dengan mata nanar. "Sofia... dia masih menyimpan vas bunga pecah ini? Saya ingat ini pecah karena saya tersenggol saat mencoba berdansa tanpa musik."

"Don, lupakan soal vas! Kita di sini bukan buat acara bedah rumah!" bisikku sambil pura-pura meneliti dinding. "Kopernya di mana?"

Don Carlo menunjuk ke arah sebuah lemari pakaian raksasa dari kayu jati yang ukirannya serumit birokrasi kelurahan. "Di balik lemari itu ada kompartemen rahasia. Tapi, Met, ada masalah kecil."

"Masalah kecil apa lagi?" tanyaku dengan firasat buruk.

"Lemari itu dipasang sensor berat. Kalau kita geser tanpa mematikan sistem hidroliknya lewat panel di samping tempat tidur, lantai ini bakal runtuh atau... mungkin kita bakal ditembak panah otomatis dari plafon. Saya agak lupa kontraktornya dulu pasang yang mana."

Aku menelan ludah. "Pak Bento, jangan gerak! Ada panah otomatis di plafon!"

Bento yang baru saja mau melangkah langsung membeku. Salah satu pengawalnya refleks mengangkat tangan ke atas kepala, seolah bisa menangkap panah dengan tangan kosong.

"Dukun," suara Bento berat dan mengancam. "Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?"

"Sinyalnya baru masuk, Pak! Frekuensi 'panah' ini jalurnya agak telat!" jawabku panik.

Aku merayap menuju samping tempat tidur, mengikuti telunjuk Don Carlo. Di sana, tersembunyi di balik laci kecil, ada sebuah panel digital dengan sepuluh tombol angka yang lampunya masih berkedip merah—tanda bahwa sistem pertahanan rumah ini masih sangat aktif meskipun pemiliknya sudah jadi hantu.

"Oke, Don. Masukkan PIN-nya. Berapa?" tanyaku penuh harap.

Don Carlo mendekati panel itu. Dia memiringkan kepalanya. "PIN ya... Emm... 1-2-3-4-5-6?"

"Don! Itu PIN orang males sedunia! Jangan bercanda!" batinku menjerit.

"Bentar, bentar... Saya biasanya pakai tanggal penting. Tanggal pernikahan saya? Ah, bukan, Sofia kan bukan istri resmi. Tanggal saya pertama kali membunuh orang? Terlalu banyak, saya lupa yang mana yang pertama."

"Dukun! Kenapa diam saja?!" Bento mulai tidak sabar. Dia berdiri di tengah ruangan seperti patung lilin yang siap meledak. "Cepat masukkan kodenya atau saya suruh anak buah saya ledakkan lemari itu!"

"Jangan, Pak! Kalau diledakkan, sistem keamanannya bakal ngebakar seluruh isi ruangan ini! Itu prosedur standar mafia kan?!" aku mencoba mengulur waktu.

Lihat selengkapnya