Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #17

16. Bubur Kacang Ijo dan Tatapan Intel

Mobil Mercedes Bento membelah jalanan menuju Sektor Enam dengan kecepatan yang membuat jantungku serasa tertinggal di lampu merah sebelumnya. Di sampingku, Bento terus memutar-mutar botol wine kosong itu, matanya berkilat penuh ambisi. Sementara di jok depan, Karsih sedang sibuk membersihkan sisa debu panel dari sela-sela kukunya.

"Don, panti asuhan? Serius?" bisikku, memastikan tidak ada telinga pengawal Bento yang menangkap suaraku.

Don Carlo yang duduk santai di atas dashboard mobil sambil melipat kaki transparannya mengangguk. "Itu tempat paling aman, Met. Mario itu iblis, dia nggak akan sudi menginjakkan kaki di tanah suci panti asuhan. Baginya, tempat itu bau kemiskinan dan doa, dua hal yang paling dia benci."

Begitu kami sampai di depan gerbang kayu bertuliskan Panti Asuhan Kasih Ibu, suasana mendadak jadi canggung. Bayangkan saja, dua mobil mewah hitam mengkilap berhenti di depan gedung tua yang catnya sudah mengelupas, menurunkan segerombolan pria berjas gelap yang mukanya lebih mirip penjahat di film aksi daripada donatur tetap.

"Mamet, pimpin jalan," perintah Bento. "Ingat, jangan ada gerakan tambahan. Kita masuk, ambil koper, keluar."

Namun, baru saja kami mau melangkah masuk ke halaman, seorang pria paruh baya dengan kaos oblong dan sarung yang dikalungkan di leher keluar dari pos satpam sambil memegang segelas kopi. Dia menatap kami dengan mata yang sangat... menyelidik.

"Waduh, rombongan dari mana ini? Mau sumbangan atau mau gusur?" tanya pria itu dengan nada santai tapi tajam.

Don Carlo mendadak tegang di sampingku. "Met, waspada. Itu Iptu Yanto. Dia intel lama yang sudah pensiun tapi masih sering nongkrong di sini karena istrinya pengurus panti. Instingnya lebih tajam dari silet cukur."

Aku segera maju, mencoba memasang senyum paling tulus (dan paling palsu) yang aku punya. "Selamat siang, Pak. Saya Mamet, ini... rombongan pengusaha dari Jakarta Pusat. Kami ke sini mau... eh... silaturahmi. Dulu kakek saya sering cerita soal panti ini."

Iptu Yanto menyeruput kopinya pelan, matanya beralih ke Bento yang terlihat sangat tidak nyaman berdiri di dekat jemuran baju anak-anak. "Pengusaha ya? Kok gayanya kayak mau jemput paksa nasabah pinjol? Terus itu, adek manis di depan bawa tas isinya obeng semua, mau servis AC?"

Karsih nyengir kuda. "Iya Pak, AC panti ini pasti butuh perawatan kan? Kami ini program 'Pengusaha Peduli Kelistrikan'."

"Pinter banget adekmu ngeles, Met," bisik Don Carlo bangga.

Misi di Bawah Lantai Kapel

Lihat selengkapnya