Suasana di dalam kapel tua Panti Asuhan Kasih Ibu mendadak menjadi sangat dingin, padahal matahari Sektor Enam sedang terik-teriknya di luar. Iptu Yanto masih berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di depan dada sambil menatapku dengan tatapan "saya-tahu-kamu-bohong" khas polisi senior.
Di bawah mimbar, Karsih mematung. Tangannya yang memegang obeng bergetar tipis. Dia bukan hanya takut pada Yanto, tapi dia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.
"Mas Mamet," bisik Karsih, suaranya naik satu oktav. "Mas... liat tas alatku nggak?"
Aku melirik ke bawah. Tas ransel Karsih yang tadinya tergeletak di lantai semen, perlahan-lahan mulai bergeser. Tidak ada angin, tidak ada tali yang menariknya. Tas itu bergerak mulus sejauh dua puluh sentimeter seolah-olah lantai kapel itu licin seperti es.
"Mungkin lantainya miring, Sih," kataku asal, meski aku tahu itu ulah Ujang.
Ujang, hantu boba yang menggemaskan tapi jahil itu, tampak sedang duduk bersila di atas ransel Karsih. Dia menyeringai ke arahku, lalu dengan iseng meniup telinga Karsih.
"Hiiiii!" Karsih melompat, kepalanya terbentur pinggiran mimbar kayu. "Mas! Ada yang niup telingaku! Dingin banget!"
Iptu Yanto mengernyitkan dahi. Dia berjalan mendekat, sepatu pantofelnya berbunyi tuk, tuk, tuk di atas ubin tua. "Kenapa kamu, Mbak? Digigit nyamuk?"
"Nggak Pak, ini... ini kayak ada AC bocor tepat di kuping saya," jawab Karsih sambil mengusap-usap lehernya. Matanya mulai liar memperhatikan sekeliling.
Karsih adalah tipe orang yang percaya bahwa segala sesuatu bisa diselesaikan dengan hukum fisika. Baginya, hantu itu hanyalah gangguan sinyal atau halusinasi akibat kurang asupan glukosa. Tapi siang ini, hukum fisikanya seolah sedang cuti bersama.
Don Carlo melayang di samping Yanto, mencoba memengaruhi pikiran sang pensiunan polisi itu agar segera pergi. "Met, suruh Ujang jangan main-main. Kalau intel ini curiga, dia bakal panggil tim forensik buat bongkar kapel ini."
"Ujang, diem!" bentakku pelan.
"Apa, Mas?" tanya Karsih dan Yanto bersamaan.
"Eh, maksud saya... Ujang! Itu... nama semut yang tadi lewat! Iya, gede banget semutnya!" aku ngeles sejadi-jadinya.
Tiba-tiba, sebuah botol minum plastik milik Karsih yang ada di atas kursi jemaat terangkat. Botol itu melayang setinggi sepuluh sentimeter, lalu pluk, jatuh kembali ke tempatnya. Karsih melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia terdiam, mulutnya menganga.
Dia mengambil tabletnya, bukan untuk mengecek sensor kabel, tapi menyalakan kamera dengan filter night vision yang bisa menangkap radiasi panas.
"Mas Mamet..." suara Karsih bergetar. "Aku... aku baru saja liat botol itu terbang. Dan di tabletku... ada anomali suhu. Tepat di sebelah Pak Yanto, ada gumpalan biru pekat. Suhunya minus lima derajat."