Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #19

18. Gema Pengkhianatan di Gudang Tua

Napas kami memburu, menciptakan uap tipis di udara gudang belakang panti asuhan yang lembap dan pengap. Tempat ini lebih mirip kuburan barang antik daripada ruang penyimpanan; tumpukan kursi kayu yang patah, kasur-kasur kapuk yang sudah menghitam, dan boneka-boneka lusuh yang menatap kosong ke arah kami. Di luar, suara sirine polisi Iptu Yanto bersahutan dengan deru mesin mobil anak buah Mario yang mulai mengepung area panti.

Bento mencengkeram kotak besi kecil yang baru saja kami ambil dari bawah ubin kapel. Wajahnya tegang, peluh membasahi dahi lebarnya. "Kunci gudang, katamu? Kalau koper itu tidak ada di sini, Met, kita semua akan jadi mayat sebelum matahari terbenam!"

Aku tidak menjawab. Mataku terpaku pada Don Carlo.

Hantu bos mafia itu mendadak berubah. Dia tidak lagi melayang santai atau mengomentari gorengan. Dia berdiri mematung di sudut gudang, tepat di depan sebuah lemari besi tua yang sudah berkarat. Tubuhnya yang transparan tampak bergetar, dan warna birunya yang tenang perlahan berubah menjadi kelabu gelap, pekat seperti tinta yang tumpah ke dalam air.

"Don? Don Carlo? Anda kenapa?" bisikku, mengabaikan tatapan Karsih yang kini mulai memperhatikan arah pandanganku dengan alat pemindai frekuensinya.

"Mas Mamet... energinya..." Karsih berbisik, suaranya gemetar. "Grafik di tabletku... ini bukan lagi gelombang suara. Ini kayak... ledakan emosi statis. Dingin banget, Mas."

***

Tiba-tiba, gudang itu seolah menghilang. Dinding-dinding kayu yang lapuk berganti menjadi dinding marmer yang dingin. Bau debu berganti menjadi aroma cerutu mahal dan parfum maskulin yang tajam. Aku tersedot masuk ke dalam memori Don Carlo yang paling gelap—sebuah ruang rahasia di masa lalu yang selama ini dia kunci rapat-rapat dalam labirin kepikunannya.

Ini adalah malam saat Don Carlo resmi dilantik menjadi pemimpin tertinggi organisasi. Di hadapannya, para sesepuh mafia duduk dalam kegelapan, hanya wajah mereka yang tersorot cahaya lampu meja.

"Carlo," suara salah satu tetua terdengar parau namun berwibawa. "Untuk memimpin kami, kamu tidak boleh memiliki jangkar. Jangkar hanya akan membuatmu tenggelam saat badai datang. Kamu tahu apa yang harus dilakukan terhadap 'beban' itu."

Aku melihat Don Carlo muda. Rahangnya mengeras. Di tangannya, dia memegang selembar dokumen: daftar aset dan lokasi persembunyian keluarganya sendiri—istrinya yang sah dan anak-anaknya yang selama ini dia sembunyikan dari dunia hitam.

"Mereka akan aman kalau mereka menghilang, Tuan-tuan," jawab Carlo muda dengan suara tanpa emosi.

"Menghilang saja tidak cukup, Carlo. Organisasi butuh jaminan bahwa mereka tidak akan pernah digunakan oleh musuh untuk menekamu. Serahkan mereka pada kami, atau biarkan mereka 'dihapus' secara permanen."

Pengkhianatan itu terjadi bukan karena dendam, tapi karena ambisi. Demi kursi kekuasaan yang dingin itu, Don Carlo memilih untuk mengkhianati darah dagingnya sendiri. Dia tidak membunuh mereka, tapi dia melakukan sesuatu yang hampir sama kejamnya: dia menyerahkan mereka kepada organisasi untuk "diasingkan" ke luar negeri, menghapus identitas mereka, dan bersumpah tidak akan pernah menemui mereka lagi seumur hidup.

Lihat selengkapnya