Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #20

19. Tiga Hari atau Kehilangan Segalanya

Suasana di dalam gudang belakang Panti Asuhan Kasih Ibu mendadak lebih mencekam daripada suara baku tembak di luar. Bento berdiri tegak, bayangannya memanjang di dinding gudang yang lembap, menutupi tumpukan kursi kayu tua. Radio pemancar yang baru saja kami temukan dari lemari besi masih berderit pelan, mengeluarkan suara statis yang seolah-olah menghitung mundur sisa umur kami.

Bento tidak lagi menatap radio itu dengan rasa ingin tahu. Dia menatapku, lalu beralih ke arah Karsih yang sedang meringkuk di dekat meja kayu sambil mendekap tabletnya. Matanya yang dingin kini tidak lagi menunjukkan kemitraan; yang ada hanyalah kalkulasi bisnis seorang pria yang sudah kehilangan kesabaran.

"Cukup, Mamet," suara Bento rendah, tapi setiap kata-katanya terasa seperti hantaman godam. "Saya sudah mengikuti permainan 'bisikan gaib' kamu dari warteg sampai ke panti asuhan ini. Kita sudah membongkar ubin kapel, membuka brankas rahasia, dan hampir mati ditembus peluru anak buah Mario. Dan apa hasilnya? Sebuah radio tua dan dokumen kertas?"

"Pak, radio ini kuncinya!" sergahku, mencoba menenangkan pria yang jarinya sudah mulai mengetuk-ngetuk gagang pistol di pinggangnya itu. "Don Carlo bilang koper itu ada di bawah tangki air, dan radio ini yang bisa buka aksesnya—"

"Tiga hari," potong Bento tajam.

Aku terdiam. "Maksud Bapak?"

Bento melangkah mendekati Karsih. Karsih mundur hingga punggungnya menabrak lemari besi. Dengan gerakan yang sangat tenang namun mengintimidasi, Bento meletakkan tangannya di dinding, mengunci ruang gerak adikku.

"Kamu punya waktu tiga hari untuk benar-benar membawa koper itu ke hadapan saya," kata Bento sambil menatap Karsih, bukan aku. "Selama tiga hari itu, adikmu yang pintar ini akan ikut bersama saya. Dia akan 'bertamu' di salah satu apartemen saya di Jakarta Pusat. Anggap saja sebagai jaminan agar 'sinyal' kamu tidak mendadak hilang atau kabur ke luar kota."

"Pak! Jangan bawa Karsih! Dia nggak ada hubungannya sama urusan ini!" teriakku, melangkah maju tapi langsung dihalangi oleh pengawal berbadan kotak milik Bento.

Don Carlo melayang di antara aku dan Bento, wajahnya yang kelabu kini tampak penuh amarah. "Bajingan! Dia persis seperti ayahnya, Antonio! Selalu menggunakan sandera untuk menutupi ketidakmampuannya!"

"Met, kasih tahu dia! Kalau dia sentuh Karsih, saya akan pastikan seluruh hidupnya dihantui sampai dia gila!" Don Carlo berteriak di telingaku, tapi suaranya hanya bisa kudengar sendiri.

"Pak Bento, dengerin saya," kataku dengan suara bergetar. "Karsih itu satu-satunya orang yang bisa operasikan radio ini. Bapak butuh dia buat buka pintu di tangki air itu. Kalau Bapak bawa dia sekarang, Bapak cuma dapet tawanan, bukan dapet koper!"

Bento melirik ke arah radio di tangan Karsih, lalu kembali menatapku. Dia tampak menimbang-nimbang.

"Mas..." suara Karsih lirih, matanya mulai berkaca-kaca. "Mas Mamet, jangan biarin mereka..."

Di luar, suara tembakan semakin jarang terdengar, berganti dengan suara teriakan polisi yang menyuruh semua orang menyerah. Iptu Yanto pasti sudah memanggil bantuan tambahan. Kami terjepit di antara dua api: polisi di depan, dan Bento yang mulai main kasar di dalam.

Lihat selengkapnya