Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #21

20. Akar dari Segala Hutang

Duduk bersandar di dinding beton tangki air yang dingin, aku merasakan denyut di perutku akibat pukulan anak buah Bento tadi. Namun, rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sesak di dadaku saat membayangkan Karsih berada di tangan orang-orang itu.

Malam ini, kegelapan di Panti Asuhan terasa begitu menekan. Don Carlo berdiri diam di sampingku, menatap langit malam yang tak berbintang. Keheningan ini membawaku kembali ke beberapa tahun yang lalu, ke saat pertama kali aku terjebak dalam lingkaran setan yang membawaku sampai ke titik ini.

"Met," suara Don Carlo memecah kesunyian. "Kamu melakukan semua ini karena kamu terlalu mencintainya, kan? Seperti saya mencintai Sofia, tapi dengan cara yang sedikit lebih... jujur."

Aku tertawa getir, lalu terbatuk. "Kejujuran saya itu dibangun di atas gunung kebohongan, Don. Anda mau tahu kenapa saya sampai meminjam uang pada lintah darat digital itu?"

Ingatanku melayang ke tiga tahun yang lalu. Saat itu, Ibu masih ada. Beliau terbaring di ranjang ruko kami yang sempit, napasnya berat, tersengal-sengal karena Jantungnya yang mulai menyerah. Di saat yang sama, Karsih baru saja pulang membawa amplop cokelat besar dengan wajah yang bersinar.

"Mas Mamet! Aku diterima! Di terima di jurusan Teknik Komputer dan Komunikasi!" serunya hari itu sambil melompat kegirangan.

Itu adalah momen yang seharusnya menjadi perayaan. Tapi bagiku, itu adalah lonceng kematian. Di atas meja, tagihan rumah sakit ibu sudah menumpuk setinggi gunung, dan surat dari kampus menyatakan bahwa uang pangkal harus dilunasi dalam tujuh hari atau kursi Karsih akan diberikan pada orang lain.

Malam itu, aku duduk di depan ruko sambil menatap layar ponsel. Iklan-iklan muncul dengan warna-warni yang menggoda.

[SIMAK! CAIR DALAM 5 MENIT! TANPA AGUNAN!]

"Mas... Mas nggak usah mikirin kuliahku dulu," Karsih menghampiriku malam itu, wajahnya yang ceria mendadak mendung saat melihatku memegang struk rumah sakit. "Aku bisa kerja dulu di Pawon Pak Haji. Kuliah bisa tahun depan."

"Nggak, Sih," kataku sambil mengusap kepalanya, memaksakan senyum paling meyakinkan yang pernah aku buat. "Mas sudah dapet proyek gede. Ada klien dari luar kota yang mau dibantu urusan... eh, warisan. Uangnya cukup buat bayar rumah sakit Ibu dan kuliah kamu."

Itu adalah kebohongan manis yang pertama. Kebohongan yang menjadi fondasi dari segala bencana.

Lihat selengkapnya