Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #22

21. Perjalanan dengan Penumpang Tak Kasat Mata

Rencana awal untuk langsung menyerahkan diri ke Iptu Yanto mendadak berantakan. Saat aku baru saja hendak melangkah keluar dari bayangan tangki air, Don Carlo tiba-tiba memegang bahuku—atau setidaknya, hawa dingin yang luar biasa mendadak mencengkeram pundakku hingga aku terpaku.

"Jangan sekarang, Met! Lihat ke gerbang depan!" bisik Don Carlo parau.

Lewat celah pagar, aku melihat sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor berhenti di dekat mobil Iptu Yanto. Dua orang turun, dan meskipun jaraknya jauh, aku mengenali postur tubuh mereka. Itu bukan polisi. Itu orang-orang Mario yang lebih senior, dan mereka tampaknya sedang melakukan negosiasi "bawah meja" dengan beberapa oknum petugas yang baru datang.

"Kalau kamu ke sana sekarang, kamu cuma akan diserahkan ke Mario, bukan diselamatkan oleh hukum," Don Carlo memperingatkan. "Kita harus pergi dari sini. Sekarang."

"Pergi ke mana?! Karsih ada di tangan Bento!"

"Ingatanku kembali sedikit lagi, Met. Koper itu... koper itu tidak ada di sini. Sinyal dari radio itu... itu bukan mengarah ke bawah tanah panti ini. Itu hanya relay. Titik nol yang sebenarnya ada di rumah masa kecil saya. Di pinggiran kota. Di tempat yang tidak pernah tercatat di dokumen mana pun."

Aku mengumpat pelan. "Don, Anda ini benar-benar raja teka-teki paling menyebalkan sedunia."

Satu-satunya kendaraan yang tersisa di area belakang panti adalah sebuah mobil tua merk Toyota Corolla tahun 80-an milik salah satu tukang kebun panti yang kuncinya masih menggantung di pos. Dengan rasa bersalah yang menumpuk di atas semua dosa-dosaku, aku menghidupkan mesin yang suaranya lebih mirip rintihan itu dan perlahan merayap keluar lewat jalur tikus di samping kapel.

"Geser dikit, Met. Dingin banget di sini," sebuah suara cempreng muncul dari kursi belakang.

Aku hampir saja membanting setir ke pohon kamboja. Di kaca spion tengah, aku melihat Ujang, si hantu boba, sedang duduk dengan kaki berayun-ayun. Di sebelahnya, Don Carlo duduk dengan tenang, menatap ke luar jendela dengan wajah melankolis.

"Ujang? Ngapain kamu ikut?!" teriakku frustrasi.

"Ya daripada di panti disemprot menyan sama Pak Haji, mending ikut Mas Mamet jalan-jalan! Di kursi belakang enak, empuk meski bau apek!" jawab Ujang ceria.

Maka di sinilah aku. Seorang dukun gadungan yang sedang dikejar mafia, membawa kabur mobil panti, menuju luar kota, ditemani oleh dua hantu yang satu pikun dan yang satu lagi hobi mainin ritsleting tas cadanganku.

"Kita ke arah Timur, Met. Terus saja sampai kamu melihat jembatan yang dicat merah," instruksi Don Carlo.

Mobil tua itu berderit setiap kali aku memindahkan gigi. Kami meninggalkan hiruk pikuk Jakarta, masuk ke jalur pinggiran yang gelap dan sepi. Hanya lampu jalan yang berkedip pucat yang menemani perjalanan kami.

Lihat selengkapnya