Gubuk tua itu berdiri di hadapanku seperti kerangka raksasa yang sudah lama dilupakan waktu. Dinding kayunya yang menghitam tertutup lumut kering, dan atap rumbianya sudah ambrol di sana-sini. Kami berada di pinggiran sebuah desa terpencil yang dikepung hutan jati. Suara mesin mobil Corolla tua yang baru saja kumatikan masih menyisakan denging di telinga, bersaing dengan konser jangkrik yang sahut-menyahut di balik kegelapan.
"Don, kita sudah sampai. Sekarang, di mana 'hati' Anda itu disimpan?" tanyaku sambil turun dari mobil, menepuk-nepuk debu dari jubah dukunku yang kini lebih mirip kain pel kotor.
Don Carlo melayang keluar menembus pintu mobil, tapi tatapannya mendadak kosong. Dia tidak melihat ke arah gubuk itu dengan tatapan seorang bos mafia yang ingin mengambil hartanya. Dia malah menatap sebuah pohon jati besar yang kulitnya sudah banyak terkelupas, tepat di samping gerbang kayu yang sudah miring.
"Met... kamu lihat pohon itu?" bisik Don Carlo. Suaranya berubah, bukan lagi suara bariton penguasa Sektor Tujuh yang angkuh, melainkan suara seorang pria yang sedang terseret arus balik waktu. "Dulu, di pohon itu, saya pernah mencoba membangun rumah pohon untuk adik saya, Mario. Saya ingin dia punya tempat untuk bersembunyi dari amarah Ayah."
Aku menghela napas panjang, bersandar pada kap mobil yang masih terasa panas. "Don, fokus! Kita nggak punya waktu buat nostalgia keluarga berencana! Karsih ada di tangan Bento! Waktu kita tinggal sedikit!"
Don Carlo tidak mendengarku. Dia melayang mendekati pohon itu, mencoba menyentuh batangnya yang kasar, namun tangannya tembus begitu saja. "Mario jatuh saat itu, Met. Dia jatuh dan menangis keras sekali. Saya berjanji padanya, 'Mario, jangan menangis. Kakak akan membangunkan istana untukmu suatu hari nanti.' Dan lihat sekarang... saya membangunkan dia istana dari darah dan keringat orang lain, tapi dia malah ingin membakar istana itu bersama saya di dalamnya."
"Don! Sadar!" aku mengguncang-guncang udara di depan wajahnya, yang tentu saja tidak berefek apa-apa. "Kita di sini buat koper! Bukan buat sesi curhat keluarga broken home!"
Ini adalah masalah utama bekerja dengan arwah yang sudah terlalu lama "tidak sinkron" dengan dunia nyata. Memori mereka seperti piringan hitam yang baret; sering kali melompat ke bagian yang paling emosional, bukan yang paling informatif.
"Duduk dulu, Met," perintah Don Carlo, melayang duduk di atas akar pohon jati yang menonjol. "Ingatan itu seperti benang kusut. Kalau dipaksa ditarik, dia akan putus. Biarkan saya mengurainya satu per satu agar pintu rahasia itu mau terbuka."
Mau tidak mau, aku duduk di tanah yang lembap. Ujang, si hantu boba, ikut duduk di sampingku sambil memegang dagu, tampak sangat antusias mendengarkan dongeng hantu.
"Dulu, rumah ini adalah satu-satunya tempat di mana ayah saya tidak membawa senjatanya ke meja makan," Don Carlo memulai dongengnya. "Beliau adalah seorang nelayan di pesisir sebelum ditarik ke kota untuk jadi algojo. Di sini, kami makan ikan bakar setiap malam. Sederhana, Met. Tapi suatu hari, orang-orang berjas hitam datang. Mereka membawa koper—bukan koper hitam yang kita cari sekarang, tapi koper kulit buaya yang berisi uang tunai dan janji-janji palsu."
"Koper itu baunya busuk, Met. Bau uang yang sudah melewati terlalu banyak tangan kotor," lanjutnya dengan mata nanar. "Ayah saya dipaksa memilih: ikut mereka ke kota sebagai 'penagih', atau gubuk ini akan dibakar saat kami tidur. Ayah saya memilih untuk ikut. Dan itulah hari pertama saya belajar bahwa koper adalah simbol kekuasaan sekaligus kutukan."
Ujang mengangguk-angguk, wajahnya tampak sedih. "Terus, Kek? Kopernya ada isinya mendoan nggak?"