Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #24

23. Dansa Setan di Jalur Tanah

Gubuk tua di tengah hutan jati itu mendadak terasa seperti panggung teater yang mencekam. Di luar, sorot lampu senter berkekuatan tinggi membelah kegelapan malam, menyapu dinding kayu yang lapuk dengan gerakan ritmis. Suara deru mesin mobil mewah yang berat—sangat kontras dengan suara "batuk" kronis mobil Corolla tuaku—berhenti tepat di depan gerbang kayu yang miring.

"Met, dia datang," bisik Don Carlo. Sosoknya yang transparan kini tidak lagi terlihat pikun atau melankolis. Ada nada kebencian murni yang bergetar di setiap kata, membuat suhu di dalam gubuk turun drastis. "Adikku tersayang... Mario. Singa yang selalu ingin memakan kakaknya sendiri."

Pintu gubuk yang sudah rapuh itu tidak dibuka, melainkan ditendang hingga hancur berkeping-keping. Seorang pria tua dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi masuk ke dalam. Dia memegang tongkat dengan kepala singa emas yang berkilauan terkena cahaya senter anak buahnya. Wajahnya adalah versi lebih tajam dan lebih kejam dari Don Carlo.

"Carlo? Kamu di sini, kan? Aku bisa merasakan bau apek penyesalanmu di udara," Mario berbicara pada ruang kosong, namun matanya seolah bisa menebak posisi keberadaan kakaknya. "Dan siapa ini? Kurir baru yang kamu pilih dari panti asuhan? Kasihan sekali, wajahnya lebih mirip tukang sedot WC daripada tangan kanan mafia."

Aku berdiri di balik bayangan balok kayu, mendekap tas berisi radio pemancar itu seperti sedang mendekap nyawaku sendiri. "Saya cuma orang yang mau menyelamatkan adik saya, Pak. Dan kalau boleh jujur, jas Anda terlalu bagus untuk dipakai di gubuk penuh kotoran tikus begini."

Mario tertawa, suara tawa yang kering dan tidak sampai ke mata. "Keberanian yang bodoh. Serahkan koper itu, Nak. Sebelum aku menyuruh orang-orangku mengubah hutan ini menjadi kuburan massal."

"Sekarang, Met! LARI!" teriak Don Carlo.

Tanpa pikir panjang, aku menerjang jendela samping, melompati meja kayu yang hancur, dan mendarat di atas tanah becek dengan posisi yang sangat tidak estetik—berguling seperti karung beras.

"Ujang! Hidupin mesinnya! Sekarang!" teriakku sambil berlari menuju Corolla tua yang terparkir di bawah pohon jati.

"Ujang nggak bisa nyetir, Mas! Ujang cuma bisa goyang-goyangin kursi penumpang!" balas Ujang yang sudah nangkring di atap mobil sambil memegang sepotong mendoan gaib.

Aku melompat ke kursi pengemudi, memutar kunci kontak dengan tangan gemetar. Cekikik... cekikik... "Ayo sayang, jangan sekarang!" rintihku. BRUUM! Keajaiban terjadi; mobil tua itu hidup kembali seolah-olah mendapat suntikan adrenalin gaib dari Don Carlo.

Aku membanting setir, memutar balik di atas tanah becek tepat saat peluru pertama menghantam kaca belakang mobilku. PRANG!

"Don! Bantu saya! Mereka punya Range Rover, saya cuma punya kaleng kerupuk berjalan ini!" teriakku sambil memacu mobil menembus semak-semak, menghindari jalan utama yang sudah diblokade.

"Tenang, Met! Kita akan ajari mereka bahwa teknologi Jerman tidak ada apa-apanya dibanding gangguan setan Jakarta!" Don Carlo melesat keluar dari mobilku, melayang secepat peluru menuju mobil pengejar pertama.

Kejar-kejaran ini dimulai dengan sangat tidak adil. Dua Range Rover hitam besar mengejarku seperti hiu yang mengejar sarden sakit-sakitan. Di jalanan tanah yang bergelombang, Corolla tuaku melompat-lompat liar, membuat kepalaku berkali-kali terbentur atap mobil.

"Ujang! Lakuin sesuatu! Mereka mau nyeruduk!" perintahku saat mobil pengejar mulai mendekat untuk menghancurkan bemper belakangku.

"Siap, Bos! Jurus Boba Menutup Mata!"

Lihat selengkapnya