Lampu mobil Corolla tuaku meredup, lalu mati total tepat saat kami memasuki perbatasan kota. Mesinnya mengeluarkan asap putih yang berbau sangit, menyisakan kesunyian yang mencekam di tengah jalanan sepi. Aku memukul setir dengan frustrasi hingga tanganku terasa panas.
"Met, cepat keluar! Ada yang tidak beres!" seru Don Carlo dengan nada yang tiba-tiba menegang.
Belum sempat aku membuka pintu, tiga mobil SUV hitam milik kelompok Don Mario sudah mengepung kami. Ternyata aksi kejar-kejaran di jalanan tadi belum berakhir. Mereka berhasil memotong jalan kami melalui jalur pintas. Beberapa pria berbadan besar keluar dari mobil, menyeret paksa aku keluar, dan merampas radio pemancar dari tanganku.
Kini, aku terbangun di sebuah gudang tua yang pengap. Bau oli bekas dan debu menusuk hidungku, membuatku terbatuk kecil. Tanganku diikat ke sebuah tiang besi yang dingin dan berkarat. Di depanku, berdiri tangan kanan Don Mario, seorang pria dengan bekas luka di pipi yang sedang memeriksa radio pemancarku dengan kasar.
"Katakan, Dukun, di mana koper itu? Atau kamu tidak akan pernah melihat Jakarta lagi," desis si Bekas Luka sambil menatapku tajam.
Aku meringis kesakitan, merasakan perih di pergelangan tanganku. "Pak, saya cuma mau balik ke Jakarta. Adik saya ditahan Bento! Kalau koper itu tidak sampai, adik saya mati!"
"Bento bukan urusan kami. Koper itu milik Don Mario," jawabnya dingin. Ia memberi isyarat pada anak buahnya yang lain. "Beri dia pelajaran sampai dia mau bicara."
Di sudut ruangan yang gelap, aku melihat pendar biru pucat. Don Carlo berdiri di sana, menatap anak buah adiknya dengan tatapan muak. Sosoknya tampak bergetar, terganggu oleh alat pengacak sinyal yang terpasang di ruangan itu.
"Met, saya tidak bisa menyentuh mereka secara fisik. Frekuensi pengacak di gedung ini terlalu kuat bagi saya," bisik Don Carlo dengan suara yang terputus-putus. "Tapi si kecil itu... dia punya cara yang lebih... unik."
Aku melirik ke atas, mencari keberadaan hantu boba itu. "Ujang! Jangan makan mendoan gaib terus! Lakuin sesuatu!" bisikku dengan suara tertahan agar tidak didengar para penjaga.
Di atas tumpukan peti kayu, Ujang nangkring dengan wajah yang mendadak serius. Ia melihat pipa besi di tangan penjaga yang hampir menghantam tulang keringku.