Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #26

25. Akar Kamboja dan Janji yang Terkubur

Deru mesin motor pinjaman—atau lebih tepatnya motor yang "dipinjam paksa" dari depan gudang Mario—terdengar parau membelah sunyinya jalanan menuju Jakarta. Angin malam yang menusuk tulang membuat bahuku kaku, namun adrenalin yang dipicu oleh pesan singkat Bento membuatku terus memutar gas. Di kursi belakang, atau lebih tepatnya melayang tipis di atas jok motor, Don Carlo tampak termenung.

"Don, fokus! Kita sudah masuk area kota. Di mana lokasi tepatnya?" teriakku di balik helm bogo yang kacanya sudah buram.

Don Carlo tidak menjawab seketika. Matanya yang biru pucat menatap deretan ruko yang tutup dan lampu-lampu jalan yang berkedip. "Memori ini aneh, Met. Seperti melihat foto tua yang warnanya sudah pudar. Tapi baunya... saya bisa mencium bau bunga kamboja yang busuk dan tanah yang lembap."

"Semua kuburan baunya begitu, Don! Kasih saya nama tempatnya!" seruku frustrasi.

"Pemakaman Delima Indah," ucap Don Carlo tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat yakin kali ini. "Tapi bukan di bagian depan yang sering dikunjungi orang untuk uji nyali. Ada sektor di paling belakang, tempat nisan-nisan tua yang sudah tidak terurus. Di sana, Met. Di bawah sebuah pohon kamboja yang batangnya melilit seperti dua orang yang sedang berpelukan."

Aku membanting setir ke arah Jakarta Selatan. Pikiranku melayang pada Karsih. Bento bukan orang yang suka menggertak. Jika dia bilang tiga jam, maka di detik pertama jam keempat, dia tidak akan segan-segan melakukan hal buruk pada adikku.

***

Kami sampai di gerbang pemakaman Delima Indah saat jam menunjukkan pukul dua pagi. Suasananya luar biasa sunyi, jenis kesunyian yang membuat telinga berdenging. Bau melati dan tanah basah menyeruak, menciptakan atmosfer yang membuat bulu kuduk berdiri, bahkan bagi orang yang setiap hari mengobrol dengan dua hantu seperti aku.

"Ujang, jangan jauh-jauh dari saya," bisikku sambil memarkir motor di bawah pohon beringin yang rimbun.

"Ujang takut, Mas... di sini banyak penunggu yang mukanya lebih serem dari Ujang. Tadi ada yang dadah-dadah dari atas nisan, tapi kepalanya ditaruh di pangkuan," Ujang meringkuk di pundakku, membuat bahu kiriku terasa sebeku es batu.

"Diam, Jang! Jangan bikin saya makin merinding," tegurku sambil mengeluarkan senter ponsel yang baterainya tinggal dua puluh persen.

Don Carlo memimpin di depan. Dia tidak berjalan, melainkan meluncur dengan tenang menembus pagar besi yang berkarat. Langkahku terasa berat, sepatu ketsku menginjak rumput tinggi yang basah oleh embun. Setiap langkah yang kuambil seolah diikuti oleh ribuan pasang mata dari balik kegelapan nisan.

"Ke arah sini, Met. Ikuti arah angin yang berbau wangi kamboja," perintah Don Carlo.

Kami berjalan semakin jauh ke dalam. Nisan-nisan yang tadinya tertata rapi kini berganti menjadi tumpukan batu yang sudah miring dan tertutup lumut tebal. Di sini, kegelapan terasa lebih pekat, seolah cahaya senter ponselku diserap oleh udara yang lembap.

"Kenapa Anda menyimpannya di sini, Don?" tanyaku dengan suara berbisik. "Bukannya ini tempat yang terlalu terbuka bagi orang seperti Anda?"

Don Carlo berhenti di depan sebuah nisan yang sudah pecah. "Karena di dunia saya, Met, orang tidak akan mencari harta di tempat yang mereka takuti. Mereka mencari di bank, di brankas, atau di bawah lantai rumah mewah. Tapi tidak ada yang mau menggali tanah kuburan di tengah malam hanya untuk mencari dokumen."

Dia menatap sebuah pohon kamboja besar di kejauhan. "Pohon itu, Met. Lihat batangnya."

Aku mengarahkan senter. Batang pohon kamboja itu memang unik. Dua batang utama tumbuh saling melilit dengan sangat rapat, menciptakan bentuk yang artistik sekaligus mengerikan di tengah kegelapan. Bunga-bunga kamboja yang putih berserakan di atas tanah, terlihat seperti bercak-bercak putih di atas permadani hitam.

"Ini makam siapa, Don?" tanyaku saat kami sampai di bawah pohon tersebut. Tidak ada nisan yang jelas di bawahnya, hanya sebuah gundukan tanah yang sudah rata dengan rumput.

Lihat selengkapnya