Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #27

26. Peluru yang Menembus Persahabatan

Kabut biru boba milik Ujang mulai menipis, tersapu oleh angin malam yang membawa aroma tanah basah semakin pekat. Aku masih berlutut di bawah akar pohon kamboja, memeluk kotak besi yang baru saja kukeluarkan dari "rahim" bumi. Di hadapanku, sebuah sosok berdiri tegak menembus sisa-sisa kabut.

Bukan anak buah biasa. Itu Bento.

Ia berdiri dengan senapan laras pendek yang dilengkapi peredam, matanya menatapku dengan dingin, jenis tatapan yang biasa ia gunakan saat menagih bunga hutang di ruko. Namun kali ini, ada sesuatu yang lebih gelap di sana.

"Lepaskan kotak itu, Mamet. Kamu sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik," kata Bento. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah kami sedang membicarakan kontrak sewa ruko.

Don Carlo melayang tepat di antara aku dan Bento. Pendar tubuhnya yang biasanya biru pucat mendadak bergetar hebat. Wajahnya yang sering terlihat pikun kini menegang, otot-massa gaibnya seolah mengeras. Ia menatap Bento bukan lagi sebagai bos yang mencari mantan anak buah, melainkan sebagai seorang hakim yang baru saja melihat bukti kejahatan paling nyata.

"Bento..." bisik Don Carlo. Suaranya bukan lagi bariton yang berwibawa, melainkan desisan yang menyakitkan. "Ingatanku... semuanya kembali sekarang. Malam itu di Dermaga Sunda Kelapa..."

Flashback: Jakarta, Lima Tahun yang Lalu

Dunia di sekelilingku seolah meluruh. Udara pemakaman yang dingin berganti menjadi aroma garam dan oli mesin. Berkat koneksi spiritualku dengan Don Carlo, aku ditarik masuk ke dalam memori terakhirnya.

Malam itu hujan turun rintik-rintik di dermaga. Don Carlo berdiri di samping mobil Mercedes hitamnya, menunggu pengiriman koper yang sedang kita perebutkan sekarang. Di sampingnya stands Bento muda—tangan kanan yang paling ia percayai, orang yang ia anggap sebagai anak didik sekaligus calon pewaris Sektor Tujuh.

"Kamu sudah pastikan Mario tidak tahu soal pertemuan ini, Bento?" tanya Don Carlo sambil membetulkan letak jasnya.

"Sudah, Don. Mario sedang sibuk dengan urusan di gudang barat. Dia tidak akan mengganggu jalan keluar kita," jawab Bento dengan nada sangat patuh.

Don Carlo tersenyum, menepuk bahu Bento. "Setelah malam ini, kita berhenti. Kamu punya cukup uang untuk hidup tenang di luar negeri. Saya ingin menghabiskan sisa umur saya mencari Sofia."

Namun, di kegelapan dermaga, lampu sorot tiba-tiba menyala. WUUUT! Helikopter polisi muncul dari langit, dan belasan mobil patroli mengepung area itu dalam hitungan detik.

"Don! Kita dijebak! Polisi sudah tahu!" teriak Bento panik.

Lihat selengkapnya