Langkah kakiku terasa seberat timah saat aku berlari menembus barisan nisan di sektor paling belakang pemakaman Jeruk Purut. Di tangan kananku, koper hitam itu terasa luar biasa berat—bukan hanya berat secara fisik, tapi seolah-olah ribuan rahasia di dalamnya memiliki massa yang sanggup menyeret tubuhku ke dasar tanah. Di belakangku, suara teriakan Bento masih terdengar, bersaing dengan raungan angin yang diciptakan oleh sisa-sisa energi Don Carlo.
"Mas Mamet! Lewat sini! Ada celah di pagar beton!" teriak Ujang yang melayang rendah, memandu jalanku di antara bayangan pepohonan kamboja yang tampak seperti tangan-tangan raksasa yang mencoba menggapai.
Aku melompati sebuah nisan tua yang sudah miring, napas daku tersengal-sengal. Koper itu berbenturan dengan pahaku setiap kali aku bergerak, menimbulkan bunyi buk, buk yang tumpul. Koper ini tidak seperti koper mahal yang biasa dipakai para eksekutif di gedung-gedung tinggi Sudirman. Bahannya terbuat dari kulit sintetis tebal yang sudah kaku, dengan sudut-sudut logam yang sudah sedikit berkarat. Namun, gemboknya adalah masalah utama: sebuah mekanisme kombinasi angka kuno yang terbuat dari kuningan padat, mengunci koper itu rapat-rapat.
"Don! Anda masih di sana?!" teriakku sambil terus berlari.
Tidak ada jawaban. Pendar biru yang biasanya menemani di sampingku telah menghilang. Don Carlo telah memberikan seluruh energinya untuk menahan Bento di bawah pohon kamboja tadi. Aku merasa sendirian di tengah kegelapan ini, hanya ditemani oleh Ujang yang terus menoleh ke belakang dengan wajah cemas.
Setelah berhasil memanjat pagar beton yang berduri dan mendarat di gang sempit yang becek, aku terus berlari sampai menemukan sebuah kolong jembatan layang yang cukup gelap untuk bersembunyi. Aku ambruk di balik tumpukan ban bekas, mencoba mengatur napas yang rasanya mau putus.
Aku meletakkan koper itu di depanku. Dalam kegelapan yang hanya dibantu oleh cahaya lampu jalan yang remang-remang dari kejauhan, koper itu tampak seperti peti mati kecil.
"Mas, koper itu baunya aneh," bisik Ujang sambil mendekatkan hidung transparannya ke celah koper. "Baunya kayak... kertas tua, kapur barus, sama... sedikit bau mawar kering."
Aku tidak memedulikan komentar Ujang. Tanganku yang gemetar mencoba memutar roda-roda angka pada gembok kuningan itu.
0... 0... 0... Klik. Tidak terjadi apa-apa.
1... 2... 3... Klik. Masih terkunci.
"Don Carlo, kalau Anda bisa dengar saya, tolong kasih tahu kodenya!" rintihku. Aku mulai panik. Bento pasti sedang mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menyisir area ini. Iptu Yanto mungkin juga sudah dalam perjalanan setelah mendengar suara tembakan tadi.
Aku mencoba mengingat setiap dongeng yang diceritakan Don Carlo selama perjalanan keluar kota kemarin. Dia bicara tentang rumah pohon Mario, tentang ikan bakar ayahnya, tentang Sofia yang tidak suka rahasia di bawah tempat tidur.
"Ujang, ingat nggak Don Carlo pernah nyebutin angka penting? Tanggal lahir? Atau nomor keberuntungan?"