Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #29

28. Senyum Kemenangan yang Beracun

Gang menuju rukoku terasa seperti terowongan tanpa ujung. Cahaya fajar yang mulai menyembul di antara celah gedung-gedung tinggi Jakarta tidak memberikan rasa hangat, malah memperjelas setiap tetes keringat dingin yang mengucur di dahiku. Aku memeluk koper hitam itu seerat mungkin, merasakan sudut logamnya menekan tulang rusukku hingga ngilu.

"Dikit lagi, Met! Itu gerbang ruko kita!" seru Ujang sambil melayang mendahuluiku.

Namun, langkahku terhenti mendadak. Di depan ruko yang biasanya sepi, kini terparkir dua mobil SUV hitam dengan mesin yang masih menderu pelan. Lampu depannya menyala, membutakan pandanganku sejenak.

Pintu ruko yang sudah miring itu terbuka dari dalam. Bento keluar dengan langkah santai, seolah-olah dia adalah pemilik sah bangunan lapuk itu. Di tangannya, dia memegang sebuah benda yang membuat jantungku seolah merosot ke perut: headphone milik Karsih yang sudah patah.

"Tepat waktu, Mamet. Aku selalu suka kurir yang disiplin," suara Bento terdengar sangat tenang, namun ada nada ancaman yang kental di setiap suku katanya.

"Di mana Karsih, Bento?!" teriakku. Suaraku parau, gemetar karena amarah dan kelelahan yang memuncak.

Bento menjentikkan jarinya. Dua anak buahnya keluar dari ruko, menyeret Karsih. Mulut adikku masih dilakban, tapi matanya yang cerdas menatapku dengan sorot yang memintaku untuk tetap tenang.

"Dia baik-baik saja, selama koper itu berpindah tangan dengan mulus," Bento mengulurkan tangannya yang lebar. "Berikan padaku, dan kalian bisa kembali menjadi penipu kecil yang tidak berarti di ruko kumuh ini."

Aku menoleh ke arah Don Carlo yang berdiri di sampingku. Sosoknya sangat tipis, hampir tidak terlihat di bawah cahaya lampu mobil. Dia hanya mengangguk pelan, sebuah isyarat pahit bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan Karsih saat ini.

"Janji dulu... lepaskan dia begitu koper ini ada di tanganmu," kataku dengan suara yang pecah.

Lihat selengkapnya