Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #30

29. Memori yang Meneteskan Darah

Pagi yang kelabu di depan ruko itu seolah membeku. Bento berdiri dengan koper hitam di tangan kiri dan pistol di tangan kanan, sementara suara denging frekuensi tinggi terus keluar dari dalam koper, beradu dengan suara statis dari pengeras suara tua yang terpasang di atas pintu ruko. Suasana yang tadinya penuh intimidasi fisik mendadak berubah menjadi horor metafisika yang menyesakkan dada.

Don Carlo melayang rendah, namun ada yang berbeda dengan penampilannya kali ini. Sosoknya tidak lagi biru tenang atau merah membara; dia berpendar dalam warna perak yang tajam, seolah-olah seluruh atom gaibnya sedang dipaksa bekerja pada kapasitas maksimal. Matanya yang biasanya terlihat sayu karena demensia gaib, kini terbuka lebar, menatap lurus ke arah Bento dengan kejernihan yang mengerikan.

"Bento..." suara Don Carlo bukan lagi bisikan. Suara itu keluar dari corong speaker ruko dengan kekuatan yang membuat kaca jendela bergetar. "Lihat aku. Lihat aku dengan mata yang dulu kau gunakan untuk membidik punggungku."

Bento mundur selangkah, napasnya mulai memburu. "Diam, Carlo! Kamu itu cuma sisa energi yang keras kepala! Kamu itu sampah sejarah!"

"Aku ingat sekarang," Don Carlo mengabaikan makian itu. Sosoknya mulai memutar balik memori di hadapan kami semua. "Malam itu di Dermaga Sunda Kelapa. Keberanianmu hanya sebatas menembak dari bayang-bayang."

***

Tiba-tiba, udara di sekitar kami berputar. Sebuah proyeksi gaib—semacam residu memori yang tersimpan di dalam koper—mulai memancar keluar. Ini bukan lagi sekadar cerita, ini adalah visualisasi dari dendam yang membusuk selama lima tahun. Kejadiannya terpampang nyata, persis seperti apa yang terjadi di dermaga malam itu.

Aku melihat sosok Don Carlo muda di layar kabut itu. Hujan turun rintik-rintik, membasahi jas mahalnya. Di sampingnya stands Bento muda—tangan kanan yang paling ia percayai. Don Carlo baru saja melemparkan sebuah kunci mobil ke arah Bento, sebuah tindakan perlindungan terakhir.

"Lari, Bento. Ambil mobil di ujung dermaga. Jangan biarkan mereka menangkapmu. Biar saya yang urus ini," suara Don Carlo muda bergema, penuh ketulusan seorang guru kepada muridnya.

Lihat selengkapnya