Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #31

30. Resonansi di Gang Buntu

Situasi di depan ruko benar-benar pecah. Bento, yang kini dirasuki ketakutan dan rasa malu karena aib pengkhianatannya terbongkar, kehilangan semua akal sehatnya. Ia tidak lagi peduli pada koper atau harta di dalamnya. Baginya, melenyapkan saksi mata adalah satu-satunya cara untuk tetap berkuasa.

"Kalian pikir hantu ini bisa menyelamatkan kalian?!" raung Bento. Ia menerjang maju ke arahku.

Anak buah Bento yang tadinya ragu kini kembali bergerak karena perintah keras sang bos, namun mereka tertahan oleh medan energi licin yang diciptakan Ujang. Sayangnya, Bento yang sedang kalap seolah memiliki tenaga badak. Ia berhasil menembus area licin itu dengan menyeret kakinya, lalu menghantamkan gagang pistolnya ke pelipisku.

PLAK!

Pandanganku langsung berkunang-kunang. Aku tersungkur ke keramik yang keras. Rasa anyir darah mulai mengalir di mulutku. Bento tidak berhenti di situ; ia menendang perutku hingga aku terbatuk-batuk, meringkuk seperti udang yang sedang sekarat.

"Berdiri, Dukun gadungan! Mana trik sulapmu sekarang?!" Bento mencengkeram kerah bajuku, mengangkatku dengan satu tangan sementara tangan lainnya bersiap melayangkan tinju.

Don Carlo mencoba menolong, namun sosoknya berkedip-kedip hebat. Serangan fisik Bento yang penuh amarah murni ternyata menciptakan gelombang energi negatif yang mengganggu stabilitas molekul gaib sang Maestro. Don Carlo terhempas ke dinding ruko, terlihat sangat lemah.

"Ujang... tolong..." rintihku.

Namun Ujang juga sedang kesulitan. Ia sedang bergulat dengan dua anak buah Bento yang mencoba menembakinya dengan peluru tajam—yang meski tidak melukai hantu, getaran ledakan peluru itu membuat Ujang terpental ke sana kemari seperti bola pingpong.

Tepat saat kepalan tangan Bento akan menghantam wajahku untuk yang kesekian kalinya, sebuah suara melengking memecah ketegangan.

"LEPASKAN MAS MAMET, BAJINGAN!"

Itu Karsih. Entah bagaimana caranya, adikku itu berhasil melepaskan lakban di mulutnya dan meloloskan diri dari pegangan pengawal yang sedang bingung oleh aura Don Carlo. Karsih tidak berlari menjauh; ia justru berlari ke arah pusat konflik.

Bento menoleh dengan seringai meremehkan. "Cari mati, Anak Kecil?"

Karsih tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil—bukan parfum, melainkan semprotan merica dosis tinggi yang dicampur dengan bubuk cabai rawit hasil eksperimennya di dapur ruko.

SSSSSSTTT!

Lihat selengkapnya